SKIRINING DAN DETEKSI DINI WANITA SEPANJANG DAUR KEHIDUPANNYA

SKRINING

A. Definisi

  1. Skrining (screening): pemeriksaan sekelompok orang untuk memisahkan orang yang sehat dari orang yang mempunyai keadaan patologis yang tidak terdiagnosis atau mempunyai risiko tinggi. (Kamus Dorland ed. 25 : 974 )
  2. Skrining: pengenalan dini secara pro-aktif pada ibu hamil untuk menemukan adanya masalah atau faktor risiko. ( Rochjati P, 2008 )
  3. Skrining: usaha untuk mengidentifikasi penyakit atau kelainan yang secara klinis belum jelas, dengan menggunakan tes, pemeriksaan atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara cepat untuk membedakan orang yang terlihat sehat, atau benar – benar sehat tapi sesungguhnya menderita kelainan.

 B. Tujuan Skrining

Untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditentukan.

C. Test skrining dapat dilakukan

  1. Pertanyaan/ Quesioner
  2. Pemeriksaan fisik
  3. Pemeriksaan laboratorium
  4. X-ray
  5. Diagnostik imaqina

D. Jenis Penyakit yang Tepat Untuk Skrining

  1. Merupakan penyakit yang serius
  2. Pengobatan sebelum gejala muncul harus lebih untung dibandingkan dengan setelah gejala muncul
  3. Prevalens penyakit preklinik harus tinggi pada populasi yang di skrening

E. Syarat-syarat Skrining

  1. Penyakit harus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting
  2. Harus ada cara pengobatan yang efektif
  3. Tersedia fasilitas pengobatan dan diagnostik
  4. Diketahui stadium prapatogenesis dan patogenesis
  5. Test harus cocok, hanya mengakibatkan sedikit ketidaknyamanan, dapat diterima oleh masyarakat
  6. Telah di mengerti riwayat alamiah penyakit
  7. Biaya harus seimbang, biaya skrining harus sesuai dengan hilangnya konsekuensi kesehatan

 KESEHATAN WANITA SEPANJANG SIKLUS KEHIDUPAN

Pendekatan yang diterapkan dalam menguraikan ruang lingkup Kesehatan Reproduksi adalah pendekatan siklus hidup, yang berarti memperhatikan kekhususan kebutuhan penannganan sistem reproduksi pada setiap fase kehidupan, serta kesinambungan antar fase kehidupan tersebut. Dengan demikian, masalah kesehatan reproduksi pada setiap fase kehidupan dapat diperkirakan, yang bila tidak ditangani dengan baik maka hal ini dapat berakibat buruk pada masa kehidupan selanjutnya.

Dalam pendekatan siklus hidup ini, dikenal lima tahap, yaitu:

  1. Konsepsi
  • Perlakuan sama terhadap janin laki-laki/perempuan
  • Pelayanan antenatal, persalinan aman dan nifas serta pelayanan bayi baru lahir.
  • Masalah yang mungkin terjadi pada tahap ini : pengutamaan jenis kelamin, BBLR, kurang gizi (malnutrisi).
  • Pendekatan pelayanan antenatal, promosi kesehatan dan pencegahan penyakit
  1. Bayi dan anak
  • ASI Eksklusif dan penyapihan yang layak
  • Tumbuh kembang anak, pemberian makanan dengan gizi seimbang
  • Imunisasi dan manajemen terpadu balita sakit
  • Pencegahan dan penanggulangan kekerasan
  • Pendidikan dan kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan perempuan
  • Masalah yang mungkin terjadi pada tahap ini : pengutamaan jenis kelamin, sunat perempuan,  kurang gizi (malnutrisi), kesakitan dan kematian BBLR, penyakit lain disemua usia dan kekerasan.
  • Pendekatan yang dilakukan: pendidikan kesehatan, kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan primer, imunisasi, pelayanan antenatal, persalinan, postnatal, menyusui serta pemberian suplemen,

Asuhan yang diberikan oleh bidan kepada bayi adalah:

  • ASI Eksklusif
  • Tumbuh kembang anak dan pemberian makanan dengan gizi seimbang
  • Imunisasi dan manajemen terpadu balita sakit
  • Pencegahan dan penanggulangan kekerasan terhadap perempuan (KtP)
  •  Pendidikan dan kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan perempuan.

3. Remaja

Masa remaja atau pubertas adalah usia antara 10 sampai 19 tahun dan merupakan peralihan dari masa kanak-anak menjadi dewasa. Peristiwa terpenting yang terjadi pada gadis remaja adalah datangnya haid pertama yang dinamakan menarche. Secara tradisi, menarche dianggap sebagai tanda kedewasaan, dan gadis yang mengalaminya dianggap sudah tiba waktunya untuk melakukan tugas-tugas sebagai wanita dewasa, dan siap dinikahkan. Pada usia ini tubuh wanita mengalami perubahan dramatis, karena mulai memproduksi hormon-hormon seksual yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan sistem reproduksi.

Asuhan yang diberikan oleh bidan kepada remaja adalah:

  • Gizi seimbang
  • Informasi tentang kesehatan reproduksi
  • Pencegahan kekerasan seksual (perkosaan)
  • Pencegahan terhadap ketergantungan napza
  • Perkawinan pada usia yang wajar
  • Peningkatan pendidikan, ketrampilan, penghargaan diri dan pertahanan terhadap godaan dan ancaman.

4. Usia subur

Usia dewasa muda, yaitu antara 18 sampai 40 tahun, sering dihubungkan dengan masa subur, karena pada usia ini kehamilan sehat paling mungkin terjadi. Inilah usia produktif dalam menapak karir yang penuh kesibukan di luar rumah. Di usia ini wanita harus lebih memperhatikan kondisi tubuhnya agar selalu dalam kondisi prima, sehingga jika terjadi kehamilan dapat berjalan dengan lancar, dan bayi yang dilahirkan pun sehat. Pada periode ini masalah kesehatan berganti dengan gangguan kehamilan, kelelahan kronis akibat merawat anak, dan tuntutan karir. Kanker, kegemukan, depresi, dan penyakit serius tertentu mulai menggerogoti tubuhnya. Gangguan yang sering muncul pada usia ini, adalah endometriosis yang ditandai dengan gejala nyeri haid, kram haid, nyeri pinggul saat berhubungan seks, sakit saat buang air besar atau buang air kecil. Penderita kadang mengalami nyeri hebat, tetapi ada juga yang tidak mengalami gejala apa-apa.

Asuhan yang diberikan oleh bidan kepada pasangan usia subur adalah:

  • Kehamilan dan persalinan yang aman
  • Pencegahan kecacatan dan kematian akibat kehamilan pada ibu dan bayi
  • Menjaga jarak kelahiran dan jumlah kehamilan dengan penggunaan alat kontrasepsi (KB)
  • Pencegahan terhadap PMS/HIV/AIDS
  • Pelayanan kesehatan reproduksi berkualitas
  • Pencegahan dan penanggulangan masalah aborsi
  • Deteksi dini kanker payudara dan leher rahim
  • Pencegahan dan manajemen infertilitas.

5. Usia Lanjut

Yang dianggap lanjut usia (lansia) adalah setelah mencapai usia 60 tahun. Inilah masa yang paling rentan diserang berbagai penyakit degeneratif dan penyakit berat lainnya. Sangat penting bagi wanita untuk melakukan pemeriksaan kesehatannya secara teratur. Prioritas utamanya adalah menjaga agar tubuh tetap sehat dengan mengatur pola makan yang benar, dan minum suplemen yang dibutuhkan tubuh. Selain itu olahraga ringan dan tetap aktif secara intelektual.

Asuhan apa yang diberikan oleh bidan kepada usia lanjut adalah:

  • Perhatian pada problem menopause
  • Perhatian pada penyakit utama degenerative, termasuk rabun, gangguan mobilitas dan osteoporosis.

Berkurangnya hormone estrogen pada wanita menopause mungkin menyebabkan berbagai keluhan sebagai berikut :

  • Penyakit jantung koroner
  • Kadar estrogen yang cukup, mampu melindungi wanita dari penyakit jantung koroner. Berkurangnya hormone estrogen dapat menurunkan kadar kolesterol baik ( HDL ) dan meningkatnya kadar kolesterol tidak baik ( LDL ) yang meningkatkan kejadian penyakit jantung koroner.
  • Osteoporosis

Adalah berkurangnya kepadatan tulang pada wanita akibat penurunan kadar hormone estrogen, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah.

  • Gangguan mata
  • Mata terasa kering dan kadang terasa gatal karena produksi air mata berkurang.
  • kepikunan ( demensia tipe Alzeimer ).
  • Kekurangan hormone estrogen juga mempengaruhi susunan saraf pusat dan otak. Penurunan hormone estrogen menyebabkan kesulitan berkonsentrasi, sukar tidur, gelisah, depresi sampai pada kepikunan tipe Alzeimer. Penyakit kepikunan tipe Alzeimer dapat terjadi bilam kekurangan estrogen sudah berlangsung cukup lama dan berat, yang dipengaruhi factor keturunan.
  • Deteksi dini kanker rahim.

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DERAJAT KESEHATAN PEREMPUAN

 1. Kemiskinan

Diperkirakan sekitar 40% penduduk Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan sejak terjadinya krisis ekonomi yang berkepanjangan. Hal ini menghambat akses terhadap pelayanan kesehatan yang pada akhirnya dapat berakibat kesakitan, kecacatan dan kematian.

2. Kedudukan perempuan dalam keluarga dan masyarakat

Kedudukan perempuan dalam keluarga dan masyarakat ditentukan oleh banyak hal, misalnya keadaan sosial ekonomi, budaya dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat di mana mereka menetap. Dewasa ini masih banyak ditemukan diskriminasi terhadap perempuan, antara lain:

  • Perempuan dinomor-duakan dalam segala aspek kehidupan, misalnya dalam pemberian makan sehari-hari, kesempatan memperoleh pendidikan, kerja dan kedudukan.
  • Perempuan seringkali terpaksa menikah pada usia muda, karena tekanan ekonomi atau orang tua mendorong untuk cepat menikah agar terlepas dari beban ekonomi
  • Keterbatasan perempuan dalam pengambilan keputusan untuk kepantingan dirinya, misalnya dalam ber KB, dalam memilih bidan sebagai penolong persalinan atau dalam mendapat pertolongan segera di RS ketika diperlukan, disamping kurangnya kesempatan mengendalikan penghasilan keluarga.
  • Tingkat pendidikan perempuan yang belum merata dan masih rendah menyebabkan  informasi yang diterima tentang kesehatan reproduksi sangat terbatas. Seperti diketahui, tingkat pendidikan yang meningkat dapat meningkatkan rasa percaya diri, wawasan dan kemauan untuk mengambil keputusan yang baik bagi diri dan keluarga, termasuk yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.
  1. Akses ke fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan
  • jarak ke fasilitas kesehatan yang cukup jauh dan sulit dicapai
  • Kurangnya informasi tentang kemampuan fasilitas kesehatan
  • Keterbatasan biaya
  • Tradisi yang menghambat pemanfaatan tenaga dan fasilitas kesehatan
  1. Kualitas pelayanan kesehatan reproduksi yang kurang memadai, antara lain karena:
  • Pelayanan kesehatan yang kurang memperhatikan kebutuhan klien
  • Kemampuan fasilitas kesehatan yang kurang memadai
  1. Beban ganda, tanggung jawab tidak proporsional sehingga kesehatan anak  perempuan semakin buruk
  2. Akses untuk pelayanan kespro rendah karena:
  •  Pengetahuan tentang seksualitas dan informasi mengenai hak reproduksi masih rendah.
  • Menonjolnya perilaku seksual resiko tinggi
  • Diskriminasi sosial
  • Sikap negatif terhadap perempuan dan anak perempuan
  • Rendahnya kemampuan dalam pengendalian kahidupan seksual pada reproduksi

7. Kurangnya penanganan kespro dan seksual pada laki-laki dan perempuan usia lanjut

8. Kebijakan dan program kesehatan masih belum mempertimbangkan perbedaan sosial, ekonomi dan perbedaan lainnya antara perempuan dan masih rendahnya kemandirian perempuan.

PERAN BIDAN SKRINING UNTUK KEGANASAN DAN PENYAKIT SISTEMIK

  1. Memberikan motivasi pada para wanita untuk melakukan pentingnya melakukan langkah skrining.
  2. Membantu dalam mengidentifikasi orang-orang yang berisikoterkena penyakit atau

masalah kesehatan tertentu. Penegakan diagnosis pasti ditindak lanjuti di fasilitas kesehatan

  1. Membantu mengidentifikasi penyakit pada stadium dini,sehingga terapi dapat dimulai secepatnya dan prognosa penyakit dapat diperbaiki
  2. Membantu melindungi kesehatan individual
  3. Membantu dalam pengendalian penyakit infeksi melalui proses identifikasi carrier  penyakit di komunitas
  4. Memberikan penyuluhan dalam pemilihan alat kontrasepsi dengan metode barrier  (pelindung) seperti diafragma dan kondom karena dapat memberi perlindungan  terhadap kanker serviks
  5. Memberikan fasilitas skrining kanker serviks dengan metodepap smear kemudian membantu dalam pengiriman hasil pemeriksaan kelaboratorium.

SISTIM RUJUKAN

Salah satu bentuk pelaksanaan dan pengembangan upaya kesehatan dalam Sistem kesehatan Nasional (SKN) adalah rujukan upaya kesehatan. Untuk mendapatkan mutu pelayanan yang lebih terjamin, berhasil guna (efektif) dan berdaya guna (efesien), perlu adanya jenjang pembagian tugas diantara unit-unit pelayanan kesehatan melalui suatu tatanan sistem rujukan. Dalam pengertiannya, sistem rujukan upaya kesehatan adalah suatu tatanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas timbulnya masalah dari suatu kasus atau masalah kesehatan masyarakat, baik secara vertikal maupun horizontal, kepada yang berwenang dan dilakukan secara rasional.

Pembagian sistim rujukan adalah:

  1. Menurut tata hubungannya
    1. Rujukan Internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan di dalam institusi tersebut. Misalnya dari jejaring puskesmas (puskesmas pembantu) ke puskesmas induk
    2. Rujukan Eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit-unit dalam jenjang pelayanan kesehatan, baik horizontal  (dari puskesmas rawat jalan ke puskesmas rawat inap) maupun vertikal (dari puskesmas ke rumah sakit umum daerah).
  1. Menurut lingkup pelayanannya
    1. Rujukan Medik adalah rujukan pelayanan yang terutama meliputi upaya penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Misalnya, merujuk pasien puskesmas dengan penyakit kronis (jantung koroner, hipertensi, diabetes mellitus) ke rumah sakit umum daerah.
    2. Rujukan Kesehatan adalah rujukan pelayanan yang umumnya berkaitan dengan upaya peningkatan promosi kesehatan (promotif) dan pencegahan (preventif). Contohnya, merujuk pasien dengan masalah gizi ke klinik konsultasi gizi (pojok gizi puskesmas), atau pasien dengan masalah kesehatan kerja ke klinik sanitasi puskesmas (pos Unit Kesehatan Kerja).

Jika ditemukan skrining dan deteksi dini pada kasus yang gawatdarurat, maka bidan dapat merujuk ke fasilitas pelayanan yang berkualitas.

Bidan mempersiapkan rujukan “BAKSOKUDA”.

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, arif M. 1998. Sinopsis Ostetri. Jilid I. Jakarta: EGC

Reryanto achmad. 2012. Asuhan Kebidanan Patologis. Edisi kedua. Jakarta: Salemba medika.