STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

GRANDEMULTIPARA

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

 PENGERTIAN GRANDEMULTIPARA

Grandemultipara adalah kehamilan lebih dari 5 kali melahirkan bayi baik yang hidup maupun mati

 PRINSIP DASAR GRANDE MULTIPARA  

  1. Grande multipara termasuk dalam kehamilan dengan resiko tinggi
  2. Ibu hamil dengan resiko tinggi memiliki bahaya yang lebih besar pada waktu kehamilan maupun persalinan bila di bandingkan dengan ibu hamil normal.
  3. Kehamilan resiko tinggi dapat dicegah bila gejalanya ditemukan sedini mungkin sehingga dapat dilakukan tindakan perbaikan.
  4. Grande multipara memiliki komplikasi dalam kehamilan (prematur) dan persalinan (atonia uteri ).

 KOMPLIKASI YANG TERJADI PADA KEHAMILAN

 ANEMIA

A.    Pengertian Anemia  Dalam Kehamilan

Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu dengan kadar Hb < 11,00 gr% Pada trimester I dan III atau kadar Hb < 10,50 gr% pada trimester II. Karena ada perbedaan dengan kondisi wanita tidak hamil karena hemodilusi terutama terjadi pada trimester II(Sarwono P, 2002).

Anemia pada wanita hamil jika kadar hemoglobin atau darah merahnya kurang dari 10,00 gr%. Penyakit ini disebut anemia berat. Jika hemoglobin < 6,00 gr% disebut anemia gravis. Jumlah hemoglobin wanita hamil adalah 12,00-15,00 gr% dan hematokrit adalah 35,00-45,00% (Mellyna, 2005).

Anemia hamil disebut ” potential danger to matter and child (potensial membahayangkan ibu dan anak) ”, karena itulah anemia memerlukan perhatian khusus dari semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan pada lini terdepan.

Baik di negara maju maupun di negara berkembang, seseorang disebut menderita anemia bila kadar Hemoglobin (Hb) kurang dari 10 gr %, disebut anemia berat atau bila kurang dari 6 gr %, disebut anemia gravis.

Wanita tidak hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12 – 15 gr % dan hematokrit 35-54 %, angka – angka tersebut juga berlaku untuk wanita hamil, terutama wanita yang mendapat pengawasan selama hamil. Oleh karena itu, pemeriksaan hematokrit dan hemogloblin harus menjadi pemeriksaan darah rutin selama pengawasan antenatal. Sebaiknya pemerintahan dilakukan setiap 3 bulan atau paling sedikit 1 kali pada pemeriksaan pertama atau pada triwulan pertama dan sekali lagi pada triwulan akhir.

B.  Epidemiologi Anemia

Berdasarkan data SKRT tahun 1995 dan 2001, anemia pada ibu hamil sempat mengalami penurunan dari 50,9% menjadi 40,1% (Amiruddin, 2007). Angka kejadian anemia di Indonesia semakin tinggi dikarenakan penanganan anemia dilakukan ketika ibu hamil bukan dimulai sebelum kehamilan. Berdasarkan profil kesehatan tahun 2010 didapatkan data bahwa cakupan pelayanan K4 meningkat dari 80,26% (tahun 2007) menjadi 86,04% (tahun 2008), namun cakupan pemberian tablet Fe kepada ibu hamil menurun dari 66,03% (tahun 2007) menjadi 48,14% (Depkes, 2008).

Frekuensi timbulnya anemia dalam  kehamilan tergantung pada suplementasi besi. Taylor dkk melaporkanrata-rata kadar hemoglobin sebesar 12,7 g/dl pada wanita yang mengkonsumsi suplemen besi sementara rata-rata hemoglobin sebesar 11,2 g/dl pada wanita yang tidak mengkonsumsi suplemen.

Karakter Trias Epidemiologi

1) Host

Faktor host (pejamu) dalam kasus anemia pada ibu hamil adalah ibu hamil yang terdiri dari:

1.Umur

Semakin muda umur ibu hamil, semakin berisiko untuk terjadinya anemia. Hal ini didukung oleh penelitian Adebisi dan Strayhorn (2005) di USA bahwa ibu remaja memiliki prevalensi anemia kehamilan lebih tinggi dibanding ibu berusia 20 sampai 35 tahun. Hal ini dapat dikarenakan pada remaja, Fe dibutuhkan lebih banyak karena pada masa tersebut remaja membutuhkannya untuk pertumbuhan, ditambah lagi jika hamil maka kebutuhan akan Fe lebih besar seperti yang sudah dijelaskan pada riwayat alamiah. Selain itu, faktor usia yang lebih muda dihubungkan dengan pekerjaan, status sosial ekonomi dan pendidikan yang kurang.

2. Kelompok etnik

Berdasarkan penelitian Adebisi dan Strayhorn (2005) di USA bahwa ras kulit hitam memiliki risiko anemia pada kehamilan 2 kali lipat dibanding dengan kulit putih. Hal ini juga dihubungkan dengan status sosial ekonomi

3. Keadaan Fisiologis

Keadaan fisiologis ibu hamil, peningkatan Hb tidak sebanding dengan penambahan volume plasma yang lebih besar, selain itu didukung dengan kebutuhan intake Fe yang lebih banyak untuk eritropoesis.

4. Keadaan imunologis

Keadaan imunologis dari ibu hamil yang dapat menyebabkan anemia dihubungkan dengan proses hemolitik sel darah merah yang nantinya disebut anemia hemolitik. Hal ini juga berhubungan dengan ada maupun tidak adanya penyakit yang mendasari seperti SLE(Systemic Lupus Erythematosus) yang dapat menyebabkan hancurnya sel darah merah.

5. Kebiasaan

Kebiasaan ini meliputi kebiasaan makan pada ibu hamil, apakah intake nutrisinya adekuat atau tidak atau mengandung Fe, asam folat, vitamin B12 ataukah tidak. Selain itu, kebiasaan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya di tempat pelayanan kesehatan juga mempengaruhi besar kecilnya kejadian anemia pada ibu hamil. Menurut penelitian Adebisi dan Strayhorn (2005) di USA, bahwa ibu hamil yang merokok dan minum alkohol juga mempengaruhi terjadinya anemia.

6. Sosial ekonomis

Faktor sosial ekonomi diantaranya adalah kondisi ekonomi, pekerjaan dan pendidikan. Ibu hamil dengan keluarga yang memiliki pendapatan yang rendah akan mempengaruhi kemampuan untuk menyediakan makanan yang adekuat dan pelayanan kesehatan untuk mencegah dan mengatasi kejadian anemia. Ibu hamil yang memiliki pendidikan yang kurang juga akan mempengaruhi kemampuan ibu dalam mendapatkan informasi mengenai anemia pada kehamilan.

7. Faktor kandungan dan kondisi/ riwayat kesehatan

Faktor kandungan diantaranya paritas, riwayat prematur sebelumnya, dan usia kandungan. Ibu dengan riwayat prematur sebelumnya lebih berisiko dibanding dengan ibu yang tidak memiliki riwayat tersebut. Ibu dengan primipara berisiko lebih rendah untuk terjadi anemia daripada ibu dengan multipara (Omoniyi, Stayhorn, 2005). Kondisi atau riwayat kesehatan diantaranya adalah apakah ibu hamil menderita penyakit diabetes, ginjal, hipertensi, dan penyakit kronis lainnya. Ibu hamil mempunyai riwayat penyakit kronis tersebut, semakin berisiko terjadinya anemia pada ibu hamil (Omoniyi, Stayhorn, 2005).

2) Agen
Agens atau sumber penyakit pada anemia ibu hamil diantaranya yaitu:

1.Unsur gizi

Terjadinya anemia pada ibu hamil juga dapat disebabkan karena defisiensi Fe, asam folat dan vitamin B dalam makanan. Defisiensi ini dapat terjadi karena kebutuhan Fe yang meningkat, kurangnya cadangan dan berkurangnya Fe dalam tubuh ibu hamil.

2. Kimia dari dalam dan luar

Anemia pada ibu hamil juga dapat terjadi karena berhubungan dengan kimia dan obat. Anemia tersebut dinamakan anemia aplastik. Kehamilan mengakibatkan peningkatan sintesa laktogen plasenta, eritropoetin dan estrogen. Laktogen plasenta dan eritropoetin menstimulasi hematopoesis dimana estrogen menekan sumsum tulang. Ketidakseimbangan tersebut menyebabkan hipoplasia (Choudry et al, 2002 dalam Yilmaz et al, 2007).

3. Faktor faali/ fisiologis

Faktor fisiologis ini meliputi peningkatan eritrosit dan Hb tidak sebanyak dengan peningkatan volume plasma pada kehamilan sehingga terjadi hipervolemi. Hal tersebut berisiko terjadinya anemia pada kehamilan.

3) Lingkungan

Dari ketiga faktor lingkungan (fisik, biologis dan sosial ekonomi) yang dapat mempengaruhi kejadian anemia pada ibu hamil yaitu faktor sosial ekonomi. Kondisi sosial berupa dukungan dari keluarga dan komunitas akan mempengaruhi kejadian anemia pada ibu hamil. Jika keluarga mendukung terhadap intake nutrisi yang adekuat pada ibu hamil dan memotivasi dalam memeriksakan kehamilannya secara rutin, maka kemungkinan kecil terjadi anemia.

Jika lingkungan komunitas menyediakan sarana pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan dan kader maka pelayanan kesehatan akan meningkat sehingga kejadian anemia kemungkinan kecil terjadi. Selain itu, pendidikan ibu hamil yang semakin tinggi akan mempengaruhi kemampuan dalam mendapatkan informasi. Kondisi ekonomi akan mempengaruhi kemampuan ibu hamil dan keluarga dalam menyediakan nutrisi yang adekuat dan memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai.

C.      Patogenesa Anemia Pada Kehamilan

Riwayat alamiah penyakit merupakan gambaran tentang perjalanan perkembangan penyakit pada individu dimulai sejak terjadinya paparan dengan agen penyebab sampai terjadinya kesembuhan atau kematian tanpa terinterupsi oleh suatu intervensi preventif maupun terapeutik (CDC, 2010 dikutip Murti, 2010). Hal ini diawali dengan terjadinya interaksi antara host, agent, dan lingkungan. Perjalanan penyakit dimulai dengan terpaparnya host yang rentan (fase suseptibel) oleh agen penyebab. Sumber penyakit (agens) pada anemia ibu hamil diantaranya dapat berupa unsur gizi dan faktor fisiologis. Pada saat hamil, ibu sebagai penjamu (host).

Dari faktor faal atau fisiologis, kehamilan menyebabkan terjadinya peningkatan volume plasma sekitar 30%, eritrosit meningkat sebesar 18% dan hemoglobin bertambah 19%. Peningkatan tersebut terjadi mulai minggu ke-10 kehamilan. Berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bahwa bertambahnya volume plasma lebih besar daripada sel darah (hipervolemia) sehingga terjadi pengenceran darah. Hemoglobin menurun pada pertengahan kehamilan dan meningkat kembali pada akhir kehamilan.

Namun, pada trimester 3 zat besi dibutuhkan janin untuk pertumbuhan dan perkembangan janin serta persediaan setelah lahir. Hal inilah yang menyebabkan ibu hamil lebih mudah terpapar oleh agen sehingga berisiko terjadinya anemia. Sedangkan, dari unsur gizi ibu hamil dihubungkan dengan kebutuhan akan zat besi (Fe), asam folat, dan vitamin B12. Keluhan mual muntah pada ibu hamil trimester 1 dapat mengurangi ketersediaan zat besi pada tubuh ibu hamil. Dan kebutuhan zat besi pada ibu hamil trimester 3 untuk pertumbuhan dan perkembangan janin juga membuat kebutuhan zat besi pada ibu hamil semakin besar. Padahal, zat besi dibutuhkan untuk meningkatkan sintesis hemoglobin.

Jika fase suseptibel di atas tidak tertangani, maka akan terjadi proses induksi menuju fase subklinis (masa laten) dan kemudian fase klinis dimana mulai muncul tanda dan gejala anemia seperti cepat lelah, sering pusing, malaise, anoreksia, nausea dan vomiting yang lebih hebat, kelemahan, palpitasi, pucat pada kulit dan mukosa, takikardi dan bahkan hipotensi. Selama tahap klinis, manifestasi klinis akan menjadi hasil akhir apakah mengalami kesembuhan, kecacatan, atau kematian (Rohtman, 2002 dalam Murti,2010). Misalnya jika terjadi pada trimester I akan mengakibatkan abortus dan kelainan kongenital, pada trimester II dapat mengakibatkan persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin, asfiksia, BBLR, mudah terkena infeksi dan bahkan kematian. Sedangkan pada trimester III akan menimbulkan gangguan his, janin lahir dengan anemia, persalinan tidak spontan .

Periode Prepathogenesis dan Pathogenesis

Tahap prepathogenesis adalah tahap sebelum terjadinya penyakit. Sehingga, tahap ini terdiri dari fase suseptibel dan subklinis (asimtomatis). Pada tahap ini, secara patofisiologis anemia terjadi pada kehamilan karena terjadi perubahan hematologi atau sirkulasi yang meningkat terhadap plasenta. Hal ini berhubungan dengan meningkatnya volume plasma tetapi tidak sebanding dengan penambahan sel darah dan hemoglobin. Selain itu, dapat disebabkan kebutuhan zat besi yang meningkat serta kurangnya cadangan zat besi dan intake zat besi dalam makanan. Zat besi diperlukan untuk eritropoesis (Atmarita, 2004 dalam Amiruddin et al, 2007).

Jika total zat besi dalam tubuh menurun akibat cadangan dan intake zat besi yang menurun, maka akan terjadi penurunan zat besi pada hepatosit dan makrofag hati, limpa dan sumsum tulang belakang. Setelah cadangan habis, akan terjadi penurunan kadar Fe dalam plasma padahal suplai Fe pada sumsum tulang untuk pembentukan hemoglobin menurun. Hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan eritrosit tetapi mikrositik sehingga terjadi penurunan kadar hemoglobin (Choudry et al, 2002 dalam Yilmaz et al, 2007). Anemia pada kehamilan tersebut dinamakan anemia defisiensi besi. Klasifikasi anemia dalam kehamilan lainnya diantaranya adalah anemia megaloblastik, anemia hipoplastik dan anemia hemolitik.

Anemia megaloblastik termasuk dalam anemia makrositik dimana anemia terjadi karena kekurangan asam folat dan atau vitamin B12. Anemia hemolitik adalah anemia yang disebabkan karena penghancuran eritrosit yang lebih cepat dari pembuatannya akibat kehilangan darah akut/ kronis (Basu, 2010).

Jika sebab-sebab di atas terjadi pada ibu hamil secara beriringan maka akan menimbulkan manifestasi klinis anemia. Pada saat tanda dan gejala tersebut muncul, tahap inilah yang disebut dengan tahap awal pathogenesis. Tahap ini berakhir sampai fase kesembuhan, kecacatan atau kematian.

Kemudian tahap patogenesis berakhir pada kesembuhan, kecacatan dan bahkan kematian. Jika timbul kesakitan atau kecacatan dapat berdampak pada kehamilannya, janinnya, persalinannya dan bayi nantinya.

Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan adalah oleh karena perubahan sirkulasi yang makin meningkat terhadap plasenta dari pertumbuhan payudara. Volume plasma meningkat 45-65% dimulai pada trimester ke II kehamilan,dan maksimum terjadi pada bulan ke 9 dan meningkatnya sekitar 1000 ml, menurunsedikit menjelang aterem serta kembali normal 3 bulan setelah partus. Stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen plasenta, yang menyebabkan peningkatan sekresi aldesteron.

D.      Pencegahan Dan Peran bidan Dalam Pencegahan

Anemia dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbangdengan asupan zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Zat besi dapatdiperoleh dengan cara mengonsumsi daging (terutama daging merah) seperti sapi. Zat besi juga dapat ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam dankangkung, buncis, kacang polong, serta kacang-kacangan. Perlu diperhatikan bahwazat besi yang terdapat pada daging lebih mudah diserap tubuh daripada zat besi padasayuran atau pada makanan olahan seperti sereal yang diperkuat dengan zat besi.Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian suplemen Fe dosisrendah 30 mg pada trimester ketiga ibu hamil non anemik (Hb lebih/=11g/dl),sedangkan untuk ibu hamil dengan anemia defisiensi besi dapat diberikan suplemenFe sulfat 325 mg 60-65 mg, 1-2 kali sehari. Untuk yang disebabkan oleh defisiensiasam folat dapat diberikan asam folat 1 mg/hari atau untuk dosis pencegahan dapatdiberikan 0,4 mg/hari. Dan bisa juga diberi vitamin B12 100-200 mcg/hari

Peran bidan dapat masuk dalam tahap pencegahan. Dimana tahap pencegahan tediri dari tiga(3) yaitu :

  1. Pencegahan Primer

Pencegahan primer dilakukan pada fase prepathogenesis yaitu pada tahap suseptibel dan induksi penyakit sebelum dimulainya perubahan patologis. Tujuan pencegahan ini untuk mencegah atau menunda terjadinya kasus baru penyakit dan memodifikasi faktor risiko atau mencegah berkembangnya faktor risiko (AHA Task Force, 1998 dalam Murti 2010).

Pada pencegahan dalam anemia ibu hamil ini, bidan komunitas dapat berperan sebagai edukator seperti memberikan nutrition education berupa asupan bahan makanan yang tinggi Fe dan konsumsi tablet besi atau tablet tambah darah selama 90 hari. Edukasi tidak hanya diberikan pada saat ibu hamil, tetapi ketika belum hamil. Penanggulangannya, dimulai jauh sebelum peristiwa melahirkan (Junadi, 2007). Selain itu, bidan juga dapat berperan sebagai konselor atau sebagai sumber berkonsultasi bagi ibu hamil mengenai cara mencegah anemia pada kehamilan.

Selain itu, sebagai fasilitator bidan dapat mengaktifkan kader dan posyandu balita atau pembentukan posyandu (jika belum ada) sebagai tenaga, sarana dan tempat dalam mempromosikan kesehatan. Bidan juga dapat menjadi motivator bagi ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin di tempat pelayanan kesehatan terdekat dan memotivasi keluarga ibu hamil untuk selalu mendukung perawatan yang dilakukan pada ibu hamil untuk mencegah terjadinya anemia.

2. Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder merupakan pencegahan yang dilakukan pada tahap pathogenesis yaitu mulai pada fase asimtomatis sampai fase klinis atau timbulnya gejala penyakit atau gangguan kesehatan. Pada pencegahan sekunder, yang dapat dilakukan oleh bidan komunitas diantaranya adalah sebagai care giver diantaranya melakukan skirinning (early detection) seperti pemeriksaan hemoglobin (Hb) untuk mendeteksi apakah ibu hamil anemia atau tidak, jika anemia, apakah ibu hamil masuk dalam anemia ringan, sedang, atau berat. Selain itu, juga dilakukan pemeriksaan terhadap tanda dan gejala yang mendukung seperti tekanan darah, nadi dan melakukan anamnesa berkaitan dengan hal tersebut. Sehingga, bidan dapat memberikan tindakan yang sesuai dengan hasil tersebut.

Dalam hal ini, bidan dapat berperan juga sebagai penemu kasus, peneliti, konselor, edukator, motivator, fasilitator dan kolaborator. Sebagai penemu kasus dan peneliti, bidan dapat menggambarkan dan melaporkan kejadian anemia pada ibu hamil di suatu daerah, sehingga datanya bermanfaat untuk dinas terkait dalam rangka penanganan terhadap kejadian anemia tersebut. Jika ibu hamil terkena anemia, maka bidan sebagai care giver dan kolaborator dapat memberikan terapi oral berupa Fe dan memberikan rujukan kepada ibu hamil ke rumah sakit untuk diberikan transfusi (jika anemia berat).

Bidan dapat memberikan pengarahan dan motivasi kepada ibu hamil dan keluarganya supaya tidak berlanjut pada komplikasi yang tidak diinginkan pada ibu dan janin. Bidan juga dapat memotivasi kader untuk dapat membantu mendeteksi adanya anemia pada ibu hamil di wilayahnya.

3. Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier dilakukan untuk mencegah perkembangan penyakit ke arah yang lebih buruk untuk memperbaiki kualitas hidup klien seperti untuk mengurangi atau mencegah terjadinya kerusakan jaringan, keparahan dan komplikasi penyakit, mencegah serangan ulang dan memperpanjang hidup.

Contoh pencegahan tersier pada anemia ibu hamil diantaranya yaitu mempertahankan kadar hemoglobin tetap dalam batas normal, memeriksa ulang secara teratur kadar hemoglobin, mengeliminasi faktor risiko seperti intake nutrisi yang tidak adekuat pada ibu hamil, tetap mengkonsumsi tablet Fe selama kehamilan dan tetap mengkonsumsi makanan yang adekuat setelah persalinan. Dalam hal ini, bidan dapat berperan sebagai care giver, edukator, konselor, motivator, kolaborator, dan fasilitator.

E.     Gejala Anemia Dalam Kehamilan

  • Ibu mengeluh cepat lelah,Sering pusing, Mata berkunang-kunang,
  • Nafsu makan turun (anoreksia), mual, muntah
  • Konsentrasi hilang,
  • Nafas pendek (pada anemia parah)
  • Keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda.
  • Keletihan,  malaise, atau mudah megantuk
  •  Pusing atau kelemahan
  •  Sakit kepala
  • Lesi pada mulut dan lidah
  • Kulit pucat
  • Mukosa membrane atau kunjung tiva pucat
  • Dasar kuku pucat
  • Takikardi
  • perubahan jaringan epitel kuku, gangguan sistem neurumuskular
  • disphagia dan pembesaran kelenjar limpa.

 F.     Etiologi Anemia Dalam Kehamilan

Penyebab anemia pada umumnya adalah sebagai berikut :

  • Kurang gizi (malnutrisi) seperti zat besi, asam folat, dan B12
  • Kemampuan perombakan sel darah merah yang terlalu cepat
  • Malabsorpsi
  • Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain

Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria.

KOMPLIKASI YANG TERJADI PADA PERSALINAN

ATONIA UTERI

1. Pengertian atonia uteri

Atonia uteria (relaksasi otot uterus) adalah Uteri tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan pemijatan fundus uteri (plasenta telah lahir).

2.    Etiologi

1. Uterus membesar lebih dari normal selama kehamilan, diantaranya :

  • Jumlah air ketuban yang berlebihan (Polihidramnion)
  • Kehamilan gemelli
  • Janin besar (makrosomia)       

2. Umur yang terlalu muda atau terlalu tua

3. Multipara dengan jarak keahiran pendek

4. Partus lama / partus terlantar

5. Malnutrisi

6. Dapat juga karena salah penanganan dalam usaha melahirkan plasenta, sedangkan sebenarnya    belum terlepas dari uterus.

7. Magnesium sulfat yang digunakan untuk mengendalikan kejang pada preeklamsi dan eklamsi.

8. Persalinan yang di induksi atau dipercepat dengan oksitosin.

3.      Tanda dan Gejala Atonia Uteri

1. Perdarahan pervaginam

Perdarahan yang terjadi pada kasus atonia sangat banyak dan darah tidak merembes. Peristiwa yang sering terjadi pada kondisi ini adalah darah keluar disertai gumpalan . Hal ini terjadi karena tromboplastin sudah tidak mampu lagi sebagai anti pembeku darah.

2. Konsistensi rahim lunak

Gejala ini merupakan gejala terpenting / khas atonia dan yang membedakan atonia dengan penyebab perdarahan lainnya.

  1. Fundus Uteri naik
  2. Terdapat tanda-tanda syok
    1. Nadi cepat dan lemah
    2. Tekanan darah yang rendah
    3. Pucat
    4. Keringat/ kulit terasa dingin dan lembab
    5. Pernapasan cepat
    6. Gelisah, bingung atau kehilangan kesadaran.

4. Penatalaksanaan Atonia uteri

a.Resusitasi

Apabila terjadi perdarahan pospartum banyak, maka penanganan awal yaitu resusitasi dengan oksigenasi dan pemberian cairan cepat, monitoring tanda-tanda vital, monitoring jumlah urin, dan monitoring saturasi oksigen. Pemeriksaan golongan darah dan crossmatch perlu dilakukan untuk persiapan transfusi darah.

b. Masase dan kompresi bimanual.

Masase dan kompresi bimanual akan menstimulasi kontraksi uterus yang akan menghentikan perdarahan.

Pemijatan fundus uteri segera setelah lahirnya plasenta (max 15 detik)

1. Jika uterus berkontraksi

Evaluasi, jika uterus berkontraksi tapi perdarahan uterus berlangsung, periksa apakah perineum / vagina dan serviks mengalami laserasi dan jahit atau rujuk segera

2. Jika uterus tidak berkontraksi maka :

  • Bersihkanlah bekuan darah atau selaput ketuban dari vagina & lobang serviks
  • Pastikan bahwa kandung kemih telah kosong
  • Lakukan kompresi bimanual internal (KBI) selama 5 menit.
  • Jika uterus berkontraksi, teruskan KBI selama 2 menit, keluarkan tangan perlahan-lahan dan pantau kala empat dengan ketat.
  • Jika uterus tidak berkontraksi, maka : Anjurkan keluarga untuk mulai melakukan kompresi bimanual eksternal; Keluarkan tangan perlahan-lahan; Berikan ergometrin 0,2 mg LM (jangan diberikan jika hipertensi); Pasang infus menggunakan jarum ukuran 16 atau 18 dan berikan 500 ml RL + 20 unit oksitosin. Habiskan 500 ml pertama secepat mungkin; Ulangi KBIJika uterus berkontraksi, pantau ibu dengan seksama selama kala empatJika uterus tidak berkontraksi maka rujuk segera.

c. Uterotonika

Oksitosin merupakan hormon sintetik yang diproduksi oleh lobus posterior hipofisis. Obat ini menimbulkan kontraksi uterus yang efeknya meningkat seiring dengan meningkatnya umur kehamilan dan timbulnya reseptor oksitosin. Pada dosis rendah oksitosin menguatkan kontraksi dan meningkatkan frekwensi, tetapi pada dosis tinggi menyababkan tetani. Oksitosin dapat diberikan secara IM atau IV, untuk perdarahan aktif diberikan lewat infus dengan ringer laktat 20 IU perliter, jika sirkulasi kolaps bisa diberikan oksitosin 10 IU intramiometrikal (IMM). Efek samping pemberian oksitosin sangat sedikit ditemukan yaitu nausea dan vomitus, efek samping lain yaitu intoksikasi cairan jarang ditemukan.

Metilergonovin maleat merupakan golongan ergot alkaloid yang dapat menyebabkan tetani uteri setelah 5 menit pemberian IM. Dapat diberikan secara IM 0,25 mg, dapat diulang setiap 5 menit sampai dosis maksimum 1,25 mg, dapat juga diberikan langsung pada miometrium jika diperlukan (IMM) atau IV bolus 0,125 mg. obat ini dikenal dapat menyebabkan vasospasme perifer dan hipertensi, dapat juga menimbulkan nausea dan vomitus. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan hipertensi.

Uterotonika prostaglandin merupakan sintetik analog 15 metil prostaglandin F2alfa. Dapat diberikan secara intramiometrikal, intraservikal, transvaginal, intravenous, intramuscular, dan rectal. Pemberian secara IM atau IMM 0,25 mg, yang dapat diulang setiap 15 menit sampai dosis maksimum 2 mg. Pemberian secara rektal dapat dipakai untuk mengatasi perdarahan pospartum (5 tablet 200 µg = 1 g). Prostaglandin ini merupakan uterotonika yang efektif tetapi dapat menimbulkan efek samping prostaglandin seperti: nausea, vomitus, diare, sakit kepala, hipertensi dan bronkospasme yang disebabkan kontraksi otot halus, bekerja juga pada sistem termoregulasi sentral, sehingga kadang-kadang menyebabkan muka kemerahan, berkeringat, dan gelisah yang disebabkan peningkatan basal temperatur, hal ini menyebabkan penurunan saturasi oksigen.

Uterotonika ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan kelainan kardiovaskular, pulmonal, dan disfungsi hepatik. Efek samping serius penggunaannya jarang ditemukan dan sebagian besar dapat hilang sendiri. Dari beberapa laporan kasus penggunaan prostaglandin efektif untuk mengatasi perdarahan persisten yang disebabkan atonia uteri dengan angka kesuksesan 84%-96%. Perdarahan pospartum dini sebagian besar disebabkan oleh atonia uteri maka perlu dipertimbangkan penggunaan uterotonika ini untuk mengatasi perdarahan masif yang terjadi.

d. Uterine lavage dan Uterine Packing

Jika uterotonika gagal menghentikan perdarahan, pemberian air panas ke dalam cavum uteri mungkin dapat bermanfaat untuk mengatasi atonia uteri. Pemberian 1-2 liter salin 47°C-50°C langsung ke dalam cavum uteri menggunakan pipa infus. Tangan operator tidak boleh menghalangi vagina untuk memberi jalan salin keluar.

Penggunaan uterine packing saat ini tidak disukai dan masih kontroversial. Efeknya adalah hiperdistended uterus dan sebagai tampon uterus.

Prinsipnya adalah membuat distensi maksimum sehingga memberikan tekanan maksimum pada dinding uterus. Segmen bawah rahim harus terisi sekuat mungkin, anestesi dibutuhkan dalam penanganan ini dan antibiotika broad-spectrum harus diberikan. Uterine packing dipasang selama 24-36 jam, sambil memberikan resusitasi cairan dan transfusi darah masuk. Uterine packing diberikan jika tidak tersedia fasilitas operasi atau kondisi pasien tidak memungkinkan dilakukan operasi.

e. Operatif

Beberapa penelitian tentang ligasi arteri uterina menghasilkan angka keberhasilan 80-90%. Pada teknik ini dilakukan ligasi arteri uterina yang berjalan disamping uterus setinggi batas atas segmen bawah rahim. Jika dilakukan SC, ligasi dilakukan 2-3 cm dibawah irisan segmen bawah rahim. Untuk melakukan ini diperlukan jarum atraumatik yang besar dan benang absorbable yang sesuai. Arteri dan vena uterina diligasi dengan melewatkan jarum 2-3 cm medial vasa uterina, masuk ke miometrium keluar di bagian avaskular ligamentum latum lateral vasa uterina. Saat melakukan ligasi hindari rusaknya vasa uterina dan ligasi harus mengenai cabang asenden arteri miometrium, untuk itu penting untuk menyertakan 2-3 cm miometrium. Jahitan kedua dapat dilakukan jika langkah diatas tidak efektif dan jika terjadi perdarahan pada segmen bawah rahim. Dengan menyisihkan vesika urinaria, ligasi kedua dilakukan bilateral pada vasa uterina bagian bawah, 3-4 cm dibawah ligasi vasa uterina atas. Ligasi ini harus mengenai sebagian besar cabang arteri uterina pada segmen bawah rahim dan cabang arteri uterina yang menuju ke servik, jika perdarahan masih terus berlangsung perlu dilakukan bilateral atau unilateral ligasi vasa ovarian.

  • Ligasi arteri Iliaka Interna

Identiffikasi bifurkasiol arteri iliaka, tempat ureter menyilang, untuk melakukannya harus dilakukan insisi 5-8 cm pada peritoneum lateral paralel dengan garis ureter. Setelah peritoneum dibuka, ureter ditarik ke medial kemudian dilakukan ligasi arteri 2,5 cm distal bifurkasio iliaka interna dan eksterna. Klem dilewatkan dibelakang arteri, dan dengan menggunakan benang non absobable dilakukan dua ligasi bebas berjarak 1,5-2 cm. Hindari trauma pada vena iliaka interna. Identifikasi denyut arteri iliaka eksterna dan femoralis harus dilakukan sebelum dan sesudah ligasi.Risiko ligasi arteri iliaka adalah trauma vena iliaka yang dapat menyebabkan perdarahan. Dalam melakukan tindakan ini dokter harus mempertimbangkan waktu dan kondisi pasien.

  • Teknik B-Lynch

Teknik B-Lynch dikenal juga dengan “brace suture”, ditemukan oleh Christopher B Lynch 1997, sebagai tindakan operatif alternative untuk mengatasi perdarahan pospartum akibat atonia uteri.

  • Histerektomi

Histerektomi peripartum merupakan tindakan yang sering dilakukan jika terjadi perdarahan pospartum masif yang jmembutuhkan tindakan operatif. Insidensi mencapai 7-13 per 10.000 kelahiran, dan lebih banyak terjadi pada persalinan abdominal dibandingkan vaginal.

Kompresi bimanual atonia uteri

Peralatan : sarung tangan steril; dalam keadaan sangat gawat; lakukan dengan tangan telanjang yang telah dicuci.

Teknik : Basuh genetalia eksterna dengan larutan disinfektan; dalam kedaruratan tidak diperlukan

  1. Eksplorasi dengan tangan kiri

            Sisipkan tinju kedalam forniks anterior vagina

  1. Tangan kanan (luar) menekan dinding abdomen diatas fundus uteri dan menangkap uterus dari belakang atas
  2. Tangan dalam menekan uterus keatas terhadap tangan luar

Ia tidak hanya menekan uterus, tetapi juga meregang pembuluh darah aferen sehingga menyempitkan lumennya.Kompresi uterus bimanual dapat ditangani tanpa kesulitan dalam waktu 10-15 menit.Biasanya ia sangat baik mengontrol bahaya sementara dan sering menghentikan perdarahan secara sempurna.

Kompresi Bimanual Atonia Uteri :

  1. KBI
  2. KBE

DAFTAR PUSTAKA

Kusmiyati, Y. 2010. Perawatan IbuHamil. Yogyakarta: Fitramaya

patriani-gift.blogspot.com/2009/03/perubahan-psikologi-pada-ibu-hamil.html diunduh 17 Mei 2011 11:02 PM

.
Sulistyowati, A. 2009. Asuhan Kebidanan PadaMasa Kehamilan. Jakarta: SalembaMedika

Fadlun, feryanto, achmand. 2011.Asuhan kebidanan  patologis. Jakarta: Salemba Medika

 

 

 

 

 

DEPRESI POST PARTUM

TINJAUAN TEORITIS

PENGERTIAN

Depresi post partum adalah gangguan emosional pasca persalinan yang bervariasi, terjadi pada 10 hari pertama masa setelah melahirkan dan berlangsung terus-menerus sampai 6 bulan atau bahkan sampai satu tahun.

Depresi pertama kali di temukan oleh Pitt tahun 1988. Menurut pitt depresi post parum adalah depresi yang bervariasi dari hari ke hari dengan menunjukkan kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan dan kehilangan libido(kehilangan selera untuk berhubungan intim dengan suami).

Hadi (2004), menyatakan secara sederhana dapat dikatakan bahwa depresi adalah suatu pengalaman yang menyakitkan, suatu perasaan tidak ada harapan lagi.

Kartono (2002), menyatakan bahwa depresi adalah keadaan patah hati atau putus asa yang disertai dengan melemahnya kepekaan terhadap stimulus tertentu, pengurangan aktivitas fisik maupun mental dan kesulitan dalam berpikir, Lebih lanjut Kartono menjelaskan bahwa gangguan depresi disertai kecemasan , kegelisahan dan keresahan, perasaan bersalah, perasaan menurunnya martabat diri atau kecenderungan bunuh diri.

Menurut Llewelly-jones (1994) menyatakan wanita yang didiagnosa mengalami depresi 3 bulan pertama setelah melahirkan. Wanita tersebut secara social dan emosional meras terasingkan atau mudah tegang dalam setiap kejadian hidupnya.

PENYEBAB

secara umum penyebab depresi post partum :

  • Wanita dengan riwayat keluarga depresi cenderung libih muah terkena depresi
  • perubahan hormon setelah melahirkan.

 kadar hormon estrogen dan progesteron sangat meningkat. Dalam 24 jam pertama setelah melahirkan, kadar hormon tersebut dengan cepat kembali normal. Perubahan besar dalam kadar hormon dapat menyebabkan depresi. Kadar hormon tiroid juga bisa turun setelah melahirkan.

  • Sejarah mengidap depresi atau penyakit mental lainnya
  • Pernah mengalami depresi postpartum
  • Mengalami stress di rumah atau tempat kerja selama hamil
  • Kurang mendapat dukungan emosional
  • Memiliki masalah pernikahan atau masalah hubungan.

 

Pitt (regina dkk,2001) mengemukakan 4 faktor penyebab depresi post partum :

  • Faktor konstitusional
  • Faktor fisik yang etrjadi karena ketidakseimbangan hormonal
  • Faktor psikologi
  • Faktor sosial dan karateristik ibu

 GEJALA

Adapun gejala-gejala umum ibu depresi post partum adalah :

 

  • Merasa gelisah atau murung
  • Merasa sedih, putus asa, dan kewalahan
  • Kurang energi atau motivasi
  • Banyak menangis
  • Makan terlalu sedikit atau terlalu banyak
  • Tidur terlalu sedikit atau terlalu banyak
  • Kesulitan berpikir atau membuat keputusanMemiliki masalah memori
  • Merasa tidak berharga dan bersalah
  • Kehilangan minat atau kesenangan pada aktivitas yang biasanya disukai
  • Menarik diri dari teman dan keluarga
  • Hilang minat (anhedonia)
  • Mengalami perubahan cepat tingkatan suasa hati dari sedih jadi marah
  • Selalu merasa lelah sepanjang waktu
  • Hanya tertarik sedikit pada bayi anda
  • Tidak menikmati hidup lagi
  • Kesulitan untuk berkonsentrasi
  • Pernah berfikir untuk mencelakai diri sendiri atau bayi Anda

Ling dan Duff (2001) mengatakan bahwa gejala depresi post partum yang dialami 60% wanita mempunyai karateristik dan spesifik antara lain:

  • Trauma terhadap intervensi medis yang terjadi
  • Kelelahan dan perubahan mood
  • Gangguan nafsu makan dan gangguan tidur
  • Tidak mau berhubungan dengan orang lain
  • tidak mencintai bayinya dan ingin menyakiti bayinya atau dirinya sendiri.

GAMBARAN KLINIK

Monks dkk (1988) mengatakan depresi post partum merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti labilitas efek, kecemasan dan depresi pada ibu yang dapat berlangsung berbulan-bulan.
Faktor resiko:

  • Keadaan hormonal
  • Dukungan social
  • Emotional relationship
  • Komunikasi dan kedekatan
  • Struktur keluarga
  • Antropologi
  • Perkawinan
  • Demografi
  • Stressor psikososial dan lingkungan

 PENCEGAHAN

Untuk mencegah terjadinya depresi post partum sebagai anggota keluarga harus memberikan dukungan emosional kepada ibu dan jangan mengabaikan ibu bila terlihat sedang sedih, dan sarankan pada ibu untuk :

  • Beristirahat dengan baik
  • Berolahraga yang ringan
  • Berbagi cerita dengan orang lain
  • Bersikap fleksible
  • Bergabung dengan orang-oarang baru
  • Sarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis

Adapun bagi suami dapat memotivasi istri dengan cara :

  • Dorong istri untuk berbicara dan tunjukkan kalau Anda mengerti.
  • Buat batasan kunjungan dan beritahu teman-teman “tidak bisa” ketika istri tidak ingin dikunjungi.
  • Terima pertolongan dari orang-orang yang sukarela membantu menyelesaikan pekerjaan rumah.
  • Izinkan teman-teman mengemong bayi agar istri punya waktu untuk dirinya sendiri dan sementara jauh dari bayi.
  • Bertindak setia dan penuh kasih sayang secara fisik tanpa minta dilayani secara seksual.

PENGOBATAN

 Terapi Obat

Obat diberikan untuk depresi sedang sampai berat obat yang umum digunakan antara lain golongan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI), SNRI, dan tricyclic antidepressants serta benzodiasepin sebagai tambahan. Obat anti depressant tidak dapat digunakan hanya 1-2 minggu, karena efeknya baru terasa setelah 2 minggu. Umumnya diberikan selama 6 bulan.

Psikoterapi

Psikoterapi antara lain talking therapy, terapi interpersonal dan kognitif/ perilaku dan terapi psikodinamik. Talking therapy membantu pasien mengenali masalah dan menyelesaikannya melalui give anta take verbal dengan terapis. Pada terapi kognitif/perilaku, pasien belajar mengidentifikasi dan mengubah persepsi menyimpang tentang dirinya serta menyesuaikan perilaku untuk mengatasi lingkungan sekitar dengan lebih baik.

Konseling

Ibu akan diajak melihat bahwa merawat anak bukanlah kesulitan yang luar biasa. Pelan-pelan diajak melihat fokus masalah, apa yang dihadapi dalam merawat anak dan adakah masalah yang sekiranya bias diselesaikan.

Modifikasi Lingkungan

Lingkungan keluarga penting dalam penyembuhan. Suami harus pengertian. Serta keluarga harus mendukung ibu serta membantu dalam merawat anak.


BAB III

ASKEB TEORI

LANGKAH I (PENGKAJIAN)

SUBJEKTIF

Biodata atau identitas klien dan suami

  • Nama

Perlu ditanyakan agar tidak keliru bila ada kesamaan nama dengan klien

  • Umur

Perlu ditanyakan untuk mengetahui pengaruh umur terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien. Dalam kurun waktu reproduksi sehat, dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun

  • Alamat

Ditanyakan untuk maksud mempermudah hubungan bila diperlukan bila keadaan mendesak. Dengan diketahuinya alamat tersebut, bidan dapat mengetahui tempat tinggal pasien/klien dan lingkungannya. Dengan tujuan untuk memudahkan menghubungi keluarganya, menjaga kemungkinan bila ada nama ibu yang sama, untuk dijadikan petunjuk saat kunjungan rumah.

  • Pekerjaan

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh pekerjaan terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien. Dengan mengetahui pekerjaan pasien/klien, bidan dapat mengetahui bagaimana taraf hidup dan sosial ekonominya agar nasehat bidan sesuai.

  • Agama

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan pasien/klien. Dengan diketahuinya agama pasien/klien, akan memudahkan bidan melakukan pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

  • Pendidikan

Ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya. Tingkat pendidikan mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seseorang.

  • Suku/Ras

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan pasien/klien. Dengan diketahuinya suku/ras pasien/klien, akan memudahkan bidan melakukan pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

 Riwayat pasien

  • Keluhan utama

Ditanyakan untuk mengetahui perihal yang mendorong pasien/klien datang kepada bidan. Untuk mengetahui keluhan utama tersebut pertanyaan yang diajukan oleh bidan adalah sebagai berikut: “Apa yang ibu rasakan.

Setelah pasien menjawab pertanyaan yang diajukan diatas maka pertanyaan selanjutnya adalah sebagai berikut :

  • Sejak kapan timbulnya gangguan dirasakan?
  • Ceritakan secara kronologis timbulnya gangguan tersebut?
  • Apakah gangguan tersebut hilang timbul? Bagaimana frekuensinya?
  • Dimana letak rasa sakit yang dirasakan? Bagaimana intensitas dan tingkat perawatannya?
  • Apakah ada keluhan lain?
  • Apakah gangguan tersebutmenghalangi kegiatan sehari-hari?
  • Apa yang telah dilakukan untuk mengatasi gangguan kesehatan tersebut? Apakah efektif?
  • Riwayat persalinan

Mencakup jarak antara dua kelahiran, tempat melahirkan, lamanya melahirkan, cara melahirkan. Dengan mengetahui riwayat persalinan, melihat kemungkinan yang dapat terjadi pada ibu hamil saat persalinan sekarang dan mengupayakan pencegahannya dan penanggulangannya.  Jika persalinan dahulu terdapat penyulit seperti perdarahan, sectio saesaria, solusio plasenta, plasenta previa kemungkinan dapat terjadi atau timbul pada persalinan sekarang.

  • Riwayat nifas

Untuk mengetahui adakah penyakit atau kelainan pada masa nifas yang lalu (perdarahan, feloris)

Riwayat kelahiran anak

  • Berat bayi sewaktu Lahir

Untuk mengetahui kondisi bayi apakah sehat atau mengalami trauma lahir dimana hal ini terjadi karena trauma pada bayi akibat tekanan mekanik (seperti kompresi dan traksi) selama preses persalianan.Kejadian ini terjadi pada berat badan bayi lebih dari 4.500 gram.

  • Kelainan Bawaan Bayi

Untuk dapat segera melakukan tindakan preventif pada bayi agar tidak memperparah kondisi.

  • Jenis Kelamin Bayi

Untuk mengetahui jenis kelamin bayi sebagai dokumentasi.

  • Status Bayi yang Dilahirkan: hidup atau mati
  • Bila bayi hidup, bagaimana keadaannya sekarang,
  • Bila meninggal, apa penyebab kematiannya
  •  Keadaan sosial budaya

Untuk mengetahui keadaan psikososial pasien atau klien perlu ditanyakan antara lain :

  • Jumlah anggota keluarga
  •  Dukungan materiil dan moril yang didapat dari keluarga.
  • Kebiasaan-kebiasaan yang menguntungkan kesehatan.
  • Kebiasaan yang merugikan kesehatan
  • Riwayat psikologis

Perlu ditanyakan untuk mengetahui bagaimana keadaan psikologis ibu sebelum hamil. apakah pernah mengalami riwayat penyakit gangguan jiwa dan kemungkinan juga sebelumnya ibu pernah  mengalami depresi,stress dan trauma sebelumnya.

  • Riwayat keluarga berencana

Untuk mengetahui jenis kontrasepsi apa yang dipakai klien sebelumnya,apakah ada efek samping setelah penggunaan kontrasepsi, lamanya menggunakan alat kontrasepsi,  alasan pemakaian serta pemberhentian kontrasepsi (bila tidak memakai lagi), serta keluhan selama memakai alat kontrasepsi. Karena kemungkinan berpengaruh terhadap gangguan kehamilan ektopik sekarang,contohnya pada infeksi pemakaian IUD yang merupakan salah satu faktornya.

  • Riwayat penyakit

Untuk mengetahui riwayat penyakit yang pernah diderita pasien/klien. Informasi ini penting untuk melihat kemungkinan yang dapat terjadi pada klien dan mengupayakan pencegahannya dan penanggulangannya. Klien dengan riwayat Infeksi saluran telur (salpingitis),seperti bakteri khusus dapat menimbulkan gangguan pada tuba fallopi adalah Chlamydia trachomatis pada motilitas saluran telur,riwayat operasi tuba,riwayat cacat bawaan pada tuba, seperti tuba sangat panjang,riwayat kehamilan ektopik sebelumnya,riwayat bekas radang pada tuba yang dapat menyebabkan perubahan-perubahan pada endosalping,riwayat tumor yang mengubah bentuk tuba,dan riwayat Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti gonorrhea, klamidia dan PID (pelvic inflamamtory disease).

OBJEKTIF

Untuk mengetahui keadaan setiap bagian tubuh dan pengaruhnya terhadap kehamilan untuk diupayakan pencegahan dan penanggulangannya.

Pemeriksaan  Keadaan Umum

  • Pengukuran tanda tanda vital

Meliputi pemeriksaan tekanan darah,nadi,suhu dan pernafasan.ibu dengan gangguan jiwa didapatkan tekanan darah,suhu,nadi dan pernafasan melebihi dari normal.

  • Pemeriksaan khusus
  • Secara inspeksi

Yaitu pemeriksaan pandang yang di mulai dari kepala sampai kaki.yang di nilai adalah kemungkinan bentuk tubuh yang normal, kebersihan kulit, rambut, muka, konjungtiva, sclera, hidung dan telinga, mulut apakah ada karies stomatitis, karang gigi, leher apakah ada pembesaran kelenjer gondok, payu dara apakah simetris kiri dan kanan, keadaan putting susu menonjol atau tidak, colostrums ada atau tidak, perut membesar sesuai dengan tua kehamilan, apakah ada bekas luka operasi, vulva apakah bersih, ada varises atau tidak, oedema dan pengeluaran dari vagina. Anus apakah ada hemoroid, extremitas atas dan bawah apakah ada kelainan.

    • Pemeriksaan penunjang
      • Dilakukan pemeriksaan Hb.
      • Tes kejiwaan dengan cara berkolaborasi dengan dokter spesialis kebidanan,psikiater dan psikologi.

LANGKAH II (INTERPRETASI DATA)

Pada langkah ini, bidan menganalisa data dasar yang diperoleh pada langkah pertama, menginterpretasikannya secara akurat dan logis, sehingga dapat merumuskan diagnose atau masalah kebidanan.

Di dalam diagnosa unsur – unsur berikut perlu dicantumkan yaitu:

  • Keadaan Pasien (ibu)

Keadaan pasien dicantumkan untuk membantu merumuskan masalah (diagnosa).

  • Masalah Utama dan Penyebabnya

Masalah dirumuskan bila bidan menemukan kesenjangan yang terjadi pada respon ibu terhadap kelahiran bayi. Tujuan mengetahui masalah utama dan penyebab adalah melakukan pengkajian lebih lanjut untuk diberikan intervensi khusus, baik berupa dukungan/penjelasan/tindakan/follow up/rujukan.Masalah Utama dan Penyebabnya.

  • Gangguan aktifitas

Dasar : ketidakmampuan melakukan aktifitas normal

  • Gangguan rasa nyaman

Dasar : perubahan pola istirahat.

  • Gangguan makanan dan cairan

Dasar : Ibu mengalami penurunan nafsu makan

  • Kebutuhan

KIE pada ibu tentang tanda-tanda penyakit jiwa.

LANGKAH III (IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL)

Langkah ini merupakan langkah antisipasi, sehingga dalam melakukan asuhan kebidanan, bidan dituntut untuk mengantisipasi permasalahan yang akan timbul dari kondisi yang sudah ada/sudah terjadi.

LANGKAH IV (TINDAKAN SEGERA)

            Pada tahap ini bidan mengidentifiksi perlunya tindakan segera, baik tindakan intervensi, tindakan konsultasi, kolaborasi dengan dokter atau rujukan berdasarkan kondisi klien.Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses penatalaksanaan kebidanan dalam kondisi emergensi, berdasarkan hasil analisa data bahwa klien membutuhkan tindakan segera untuk menyelamatkan ibu dan bayinya.

LANGKAH V (PERENCANAAN)

Tujuan di dalam rencana kegiatan ini adalah untuk menunjukkan perbaikan-perbaikan yang diharapkan.

LANGKAH VI (PELAKSANAAN TINDAKAN)

            Merupakan tindakan pelaksanaan dari rencana tindakan yang akan diberikan pada pasien agar mendapatkan asuhan yang komperhensif.

LANGKAH VII (EVALUASI)

            Merupakan penilaian ulang yang dilakukan oleh bidan yang berguna untuk menentukan sejauh mana hasil pelaksanaan yang telah dilakukan terhadap pasien sehingga asuhan yang diberikan efektif.

 

BAB IV

KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS DENGAN

DEPRESI POST PARTUM  TERHADAP Ny. “Y” P1AOH1 HARI KE 2 POST PARTUM  DI KLINIK BERSALIN  SEHAT SENTOSA PADANG

TANGGAL 14 JUNI 2012

 PENGUMPULAN DATA DASAR

Tanggal 14 Juni 2012

pukul 14.00 wib

Identitas

Nama           : Yeni Susanti                      Nama suami : Jatmiko

Umur           : 21 tahun                            umur              : 30 tahun

Agama         : Islam                                 Agama           : Islam

Pendidikan : DIII                                   Pendidikan    : S1

Suku            : Jawa                                  Suku              : Jawa

Alamat        : Jalan Melati No. 45           Alamat          : Jalan melati No. 45

Kota Alam                                                                       Kota Alam

 Anamnesa

  • Keluhan utama

Ibu post partum hari ke 2 mengeluh sangat merasa sedih, tidak ingin melihat apalagi mendekati bayinya, karena lahir bayi perempuan, ibu tidak nafsu makan, merasa lelah yang berlebihan dan tidak bisa tidur.

  • Riwayat persalinan sekarang
    1. Waktu persalinan     : 12 Juni 2012 pukul 12.30 wib
    2. Tempat persalinan    : BPS
    3. Ditolong oleh           : Bidan
    4. Jenis persalinan        : spontan
    5. Lama persalinan      

–          Kala I                 : ± 10 jam

–          Kala II                : ± 30 menit

–          Kala III              : ±15 menit

–          Kala IV              : ± 2 jam

 6. Ketuban

–          Warna                 : jernih

–          Jumlah                : ± 500 cc

–          Bau                     : amis

7. Bayi

–          Jenis kelamin      : perempuan

–          A/S                     : 9/10

–          BB                      : 3500 gr

–          PB                      : 47 cm

–          Molase                : tidak ada

–          Kelainan             : tidak ada

8. Plasenta

–          Ukuran               : 500 gr

–          Insersi                 : normal

–          Kotiledon           : lengkap

–          Kelainan             : tidak ada

9. Perdarahan selama persalinan : ± 55 cc

10. Komplikasi persalinan             : tidak ada

11. Riwayat kontrasepsi       ; Tidak ada

12. Riwayat kesehatan

      • Jentung                     : tidak ada
      • Ginjal                       : tidak ada
      • DM                           : tidak ada
      • Hipertensi                 : tidak ada
      • Hepatitis                   : tidak ada
      • Dll                            : tidak ada

13.Status perkawinan

  • Usia nikah pertama kali  : 22 thun
  • Status pernikahan           : syah           
  • Lama pernikahan            : 2 tahun
  • Pernikahan ke                 : 1

14.Pola nutrisi.

  • Makan

–          Frekwensi           : 1-2 x sehari

–          Menu                  : 3 sendok makan nasi + 1 sendok makan sayur + 1 potong lauk sebesar korek api + 1 gelas air mineral

–          Keluhan              : tidak ada

  • Minum

–          Frekwensi           : 6-8 gelas sehari

–          Jumlah                : 3 liter

–          Keluhan              : tidak ada

15.Pola eliminasi

  1. BAK

–          Frekwensi           : 1 x sehari

–          Warna                 : kuning padat

–          Keluhan              : tidak ada

2. BAB

–          Frekwensi           : 3-4 x sehari

–          Konsistensi         : cair

–          Warna                 : kuning jenih

–          Keluhan              : tidak ada

16. Pola istirahat dan tidur

      1. Istirahat siang           : 1-2 jam
      2. Istirahat malam        : 3-4 jam
      3. Keluhan                    :  susah tidur
      4. Personal hygiene

        • Mandi                       : 1 x sehari
        • Gosok gigi                : 2 x sehari
        • Keramas                   : 1 x dua hari
        • Ganti pembalut        : 2-3 x sehari
        • Ganti pakaian           : 2 x sehari
        • Olah raga
        • Senam nifas              : dilakukanFrekwensi                 : 1 x seminggu.

17.Pola hidup sehatMerokok                   : tidak ada

  • Alcohol                    : tidak ada
  • Jamu-jamu                : tidak ada

18. Keadaan psikologi         : kurang baik

19. Keadaam social

  • Hubungan ibu dengan suami           : baik
  • Hubungan ibu dengan keluarga       : baik
  • Hubungan ibu denga tetangga         : rukun
  • Keadaan spiritual           : ibu melaksanakan ibadah nya

Data ObjektifPemeriksaan umum

Keadaan umum        : kurang baik

Keadaan emosional  : CMC

Tanda vital

–          TD                         : 100/70 mmHg

–          Nadi                      : 90 x/menit    

–          Suhu                      : 36oC

–          Pernapasan            : 24 x/menit

Pemeriksaan Khusus

  1. Wajah                      

–          Conjungtiva :  tidak pucat

–          Sclera           : tidak kuning

2. Leher                   : tidak ada perbesaran kelenjar tyroid

3. Payudara                 

–          Pengeluaran        : ada (+)

–          Bentuk               : simetris kiri dan kanan.

–          Putting susu       : menonjol

4. Abdomen

–          Bentuk                     : simetris

–          Tinggi fundus uteri  : 2 jari bawah pusat

–          Kontraksi                 : ada                                

–          Kandung kemih       : kosong

5. Genetalia

–          Perineum            : utuh

–          Lochea               : rubra

  • Warna           : darah merah
  • Jumlah          : 10 cc
  • Bau               : tidak busuk

6. Ekstremitas             

  • Oedema        : tidak ada
  • Reflex          : ka/ki (+/+)
  • Kemerahan   : tidak ada

Pemeriksaan Laboratorium

Darah                            

–          Hb                      :     11 gr %


SOAP

Subjektif :

  1. Keluarga mengatakan bahwa Ny. “ Y “ tidak ingin melihat apa lagi mendekati bayinya kerena jenis kelamin bayinya tidak sesuai dengan harapan.
  2. Keluarga mengatakan ibu tidak nafsu makan ,merasa lelah yang berlebihan ,dan tidak bisa tidur.

Objektif:

  1. Pemeriksaan Fisik
  2. Keadaan umum     : ibu tampak kusut dan lemah
  3. Kesadaran             : composmentis
  4. Tanda-tanda vital 

TD                         : 100/70 mmHg

Nadi                      : 90 x/menit    

Suhu                      : 36 ⁰C

P                            : 24 x/menit

Pemeriksaan Khusus

  1. Wajah                            

–          Conjungtiva       :  tidak pucat

–          Sclera                 : tidak kuning

2. Leher :        tidak ada perbesaran kelenjar tyroid

3. Payudara                       

–          Pengeluaran        : ada (+)

–          Bentuk               : simetris kiri dan kanan.

–          Putting susu       : menonjol

4. Abdomen

–          Bentuk                     : simetris

–          Tinggi fundus uteri  : 2 jari bawah pusat

–          Kontraksi                 : ada                                

–          Kandung kemih       : kosong

5. Genetalia

–          Perineum            : utuh

–          Lochea               : rubra

  • Warna           : darah merah
  • Jumlah          : 10 cc
  • Bau               : tidak busuk

6. Ekstremitas   

  • Oedema              : tidak ada
  • Reflex                : ka/ki (+/+)
  • Kemerahan         : tidak ada

pemeriksaanlaboratorium

Darah 

Hb       :           11 gr %

Assessment :

Ibu nifas P1A0H1 hari ke 2 dengan depresi post partum.

Dasar :

  1. Ibu P1AoH1 post partum tanggal 12 Juni 2012 pukul 12.30 WIB
  2. Ibu mengatakan sulit tidur, tidak nafsu makan, perasaan tidak berdaya, tidak senang melihat bayinya, tidak mau mendekati bayinya, tidak ada perhatian terhadap penampilannya dengan keadaan ibu yang kotor dan lemah.

Planning :

  1. Jelaskan pada ibu dan keluarga tentang keadaan ibu saat ini.
  2. Jelaskan pada ibu bahwa ibu menderita depresi post partum yaitu depresi setelah melahirkan karena tidak mengingkan anak perempuan.
  3. Libatkan keluarga untuk membantu ibu untuk beristirahat, melakukan aktivitas dan melakukan interaksi dengan bayinya.
  4. Observasi keadaan umum ibu dan tanda vital
  5. Memantau keadaan ibu apakah masih lemah dan kusut.
  6. Anjurkan pada ibu untuk makan 3 x sehari dengan menu yang sehat dan bergizi.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://bukankuyg biasa.blogspot.com/2007/02/depresi-post-partum.htm/
  2. http://fadlan’s world-sheikh famili-depresi pasca melahirkan
  3. http://klinis.wordpress.com/2007/12/29/depresi-post partum/
  4. http://rinie.info/2008/05/05/post-psrtum-blues-aka-baby-blues/
  5. http://ilma95.net/kasih-suami_pulihkan-depresi.htm
  6. Home»Artikel Kedokteran»DEPRESI PASCA MELAHIRKAN (DEPRESI POSTPARTUM)
  7. As’ari, Y. 2005. Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Kestabilan Emosi Dalam Menghadapi Kelahiran Anak Pertama. Skripsi. (tidak diterbitkan). Universitas Muhammadiyah Surakarta.
  8. Erikania, J. 1999. Mengenal Post Partum Blues. Nakita. 8 Mei 199. No. 05/1. Halaman 6. Jakarta : PT Kinasih Satya Sejati.
  9. Hinton, J. 1989. Depresi dan Perawatannya. Jakarta : Dian Rakyat.
  10. Ibrahim, Z. 2002. Psikologi Wanita. Bandung : Pustaka Hidayah.
  11. Kartono, K. 1992. Psikologi Wanita : Mengenal Wanita Sebagai Ibu dan Nenek. Jilid Dua. Bandung : Mandar Maju.

 

 

 

SKIRINING DAN DETEKSI DINI WANITA SEPANJANG DAUR KEHIDUPANNYA

 

SKIRINING DAN DETEKSI DINI WANITA SEPANJANG DAUR KEHIDUPANNYA

SKRINING

A. Definisi

  1. Skrining (screening): pemeriksaan sekelompok orang untuk memisahkan orang yang sehat dari orang yang mempunyai keadaan patologis yang tidak terdiagnosis atau mempunyai risiko tinggi. (Kamus Dorland ed. 25 : 974 )
  2. Skrining: pengenalan dini secara pro-aktif pada ibu hamil untuk menemukan adanya masalah atau faktor risiko. ( Rochjati P, 2008 )
  3. Skrining: usaha untuk mengidentifikasi penyakit atau kelainan yang secara klinis belum jelas, dengan menggunakan tes, pemeriksaan atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara cepat untuk membedakan orang yang terlihat sehat, atau benar – benar sehat tapi sesungguhnya menderita kelainan.

 B. Tujuan Skrining

Untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditentukan.

C. Test skrining dapat dilakukan

  1. Pertanyaan/ Quesioner
  2. Pemeriksaan fisik
  3. Pemeriksaan laboratorium
  4. X-ray
  5. Diagnostik imaqina

D. Jenis Penyakit yang Tepat Untuk Skrining

  1. Merupakan penyakit yang serius
  2. Pengobatan sebelum gejala muncul harus lebih untung dibandingkan dengan setelah gejala muncul
  3. Prevalens penyakit preklinik harus tinggi pada populasi yang di skrening

E. Syarat-syarat Skrining

  1. Penyakit harus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting
  2. Harus ada cara pengobatan yang efektif
  3. Tersedia fasilitas pengobatan dan diagnostik
  4. Diketahui stadium prapatogenesis dan patogenesis
  5. Test harus cocok, hanya mengakibatkan sedikit ketidaknyamanan, dapat diterima oleh masyarakat
  6. Telah di mengerti riwayat alamiah penyakit
  7. Biaya harus seimbang, biaya skrining harus sesuai dengan hilangnya konsekuensi kesehatan

 KESEHATAN WANITA SEPANJANG SIKLUS KEHIDUPAN

Pendekatan yang diterapkan dalam menguraikan ruang lingkup Kesehatan Reproduksi adalah pendekatan siklus hidup, yang berarti memperhatikan kekhususan kebutuhan penannganan sistem reproduksi pada setiap fase kehidupan, serta kesinambungan antar fase kehidupan tersebut. Dengan demikian, masalah kesehatan reproduksi pada setiap fase kehidupan dapat diperkirakan, yang bila tidak ditangani dengan baik maka hal ini dapat berakibat buruk pada masa kehidupan selanjutnya.

Dalam pendekatan siklus hidup ini, dikenal lima tahap, yaitu:

  1. Konsepsi
  • Perlakuan sama terhadap janin laki-laki/perempuan
  • Pelayanan antenatal, persalinan aman dan nifas serta pelayanan bayi baru lahir.
  • Masalah yang mungkin terjadi pada tahap ini : pengutamaan jenis kelamin, BBLR, kurang gizi (malnutrisi).
  • Pendekatan pelayanan antenatal, promosi kesehatan dan pencegahan penyakit
  1. Bayi dan anak
  • ASI Eksklusif dan penyapihan yang layak
  • Tumbuh kembang anak, pemberian makanan dengan gizi seimbang
  • Imunisasi dan manajemen terpadu balita sakit
  • Pencegahan dan penanggulangan kekerasan
  • Pendidikan dan kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan perempuan
  • Masalah yang mungkin terjadi pada tahap ini : pengutamaan jenis kelamin, sunat perempuan,  kurang gizi (malnutrisi), kesakitan dan kematian BBLR, penyakit lain disemua usia dan kekerasan.
  • Pendekatan yang dilakukan: pendidikan kesehatan, kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan primer, imunisasi, pelayanan antenatal, persalinan, postnatal, menyusui serta pemberian suplemen,

Asuhan yang diberikan oleh bidan kepada bayi adalah:

  • ASI Eksklusif
  • Tumbuh kembang anak dan pemberian makanan dengan gizi seimbang
  • Imunisasi dan manajemen terpadu balita sakit
  • Pencegahan dan penanggulangan kekerasan terhadap perempuan (KtP)
  •  Pendidikan dan kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan perempuan.

3. Remaja

Masa remaja atau pubertas adalah usia antara 10 sampai 19 tahun dan merupakan peralihan dari masa kanak-anak menjadi dewasa. Peristiwa terpenting yang terjadi pada gadis remaja adalah datangnya haid pertama yang dinamakan menarche. Secara tradisi, menarche dianggap sebagai tanda kedewasaan, dan gadis yang mengalaminya dianggap sudah tiba waktunya untuk melakukan tugas-tugas sebagai wanita dewasa, dan siap dinikahkan. Pada usia ini tubuh wanita mengalami perubahan dramatis, karena mulai memproduksi hormon-hormon seksual yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan sistem reproduksi.

Asuhan yang diberikan oleh bidan kepada remaja adalah:

  • Gizi seimbang
  • Informasi tentang kesehatan reproduksi
  • Pencegahan kekerasan seksual (perkosaan)
  • Pencegahan terhadap ketergantungan napza
  • Perkawinan pada usia yang wajar
  • Peningkatan pendidikan, ketrampilan, penghargaan diri dan pertahanan terhadap godaan dan ancaman.

4. Usia subur

Usia dewasa muda, yaitu antara 18 sampai 40 tahun, sering dihubungkan dengan masa subur, karena pada usia ini kehamilan sehat paling mungkin terjadi. Inilah usia produktif dalam menapak karir yang penuh kesibukan di luar rumah. Di usia ini wanita harus lebih memperhatikan kondisi tubuhnya agar selalu dalam kondisi prima, sehingga jika terjadi kehamilan dapat berjalan dengan lancar, dan bayi yang dilahirkan pun sehat. Pada periode ini masalah kesehatan berganti dengan gangguan kehamilan, kelelahan kronis akibat merawat anak, dan tuntutan karir. Kanker, kegemukan, depresi, dan penyakit serius tertentu mulai menggerogoti tubuhnya. Gangguan yang sering muncul pada usia ini, adalah endometriosis yang ditandai dengan gejala nyeri haid, kram haid, nyeri pinggul saat berhubungan seks, sakit saat buang air besar atau buang air kecil. Penderita kadang mengalami nyeri hebat, tetapi ada juga yang tidak mengalami gejala apa-apa.

Asuhan yang diberikan oleh bidan kepada pasangan usia subur adalah:

  • Kehamilan dan persalinan yang aman
  • Pencegahan kecacatan dan kematian akibat kehamilan pada ibu dan bayi
  • Menjaga jarak kelahiran dan jumlah kehamilan dengan penggunaan alat kontrasepsi (KB)
  • Pencegahan terhadap PMS/HIV/AIDS
  • Pelayanan kesehatan reproduksi berkualitas
  • Pencegahan dan penanggulangan masalah aborsi
  • Deteksi dini kanker payudara dan leher rahim
  • Pencegahan dan manajemen infertilitas.

5. Usia Lanjut

Yang dianggap lanjut usia (lansia) adalah setelah mencapai usia 60 tahun. Inilah masa yang paling rentan diserang berbagai penyakit degeneratif dan penyakit berat lainnya. Sangat penting bagi wanita untuk melakukan pemeriksaan kesehatannya secara teratur. Prioritas utamanya adalah menjaga agar tubuh tetap sehat dengan mengatur pola makan yang benar, dan minum suplemen yang dibutuhkan tubuh. Selain itu olahraga ringan dan tetap aktif secara intelektual.

Asuhan apa yang diberikan oleh bidan kepada usia lanjut adalah:

  • Perhatian pada problem menopause
  • Perhatian pada penyakit utama degenerative, termasuk rabun, gangguan mobilitas dan osteoporosis.

Berkurangnya hormone estrogen pada wanita menopause mungkin menyebabkan berbagai keluhan sebagai berikut :

  • Penyakit jantung koroner
  • Kadar estrogen yang cukup, mampu melindungi wanita dari penyakit jantung koroner. Berkurangnya hormone estrogen dapat menurunkan kadar kolesterol baik ( HDL ) dan meningkatnya kadar kolesterol tidak baik ( LDL ) yang meningkatkan kejadian penyakit jantung koroner.
  • Osteoporosis

Adalah berkurangnya kepadatan tulang pada wanita akibat penurunan kadar hormone estrogen, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah.

  • Gangguan mata
  • Mata terasa kering dan kadang terasa gatal karena produksi air mata berkurang.
  • kepikunan ( demensia tipe Alzeimer ).
  • Kekurangan hormone estrogen juga mempengaruhi susunan saraf pusat dan otak. Penurunan hormone estrogen menyebabkan kesulitan berkonsentrasi, sukar tidur, gelisah, depresi sampai pada kepikunan tipe Alzeimer. Penyakit kepikunan tipe Alzeimer dapat terjadi bilam kekurangan estrogen sudah berlangsung cukup lama dan berat, yang dipengaruhi factor keturunan.
  • Deteksi dini kanker rahim.

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DERAJAT KESEHATAN PEREMPUAN

 1. Kemiskinan

Diperkirakan sekitar 40% penduduk Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan sejak terjadinya krisis ekonomi yang berkepanjangan. Hal ini menghambat akses terhadap pelayanan kesehatan yang pada akhirnya dapat berakibat kesakitan, kecacatan dan kematian.

2. Kedudukan perempuan dalam keluarga dan masyarakat

Kedudukan perempuan dalam keluarga dan masyarakat ditentukan oleh banyak hal, misalnya keadaan sosial ekonomi, budaya dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat di mana mereka menetap. Dewasa ini masih banyak ditemukan diskriminasi terhadap perempuan, antara lain:

  • Perempuan dinomor-duakan dalam segala aspek kehidupan, misalnya dalam pemberian makan sehari-hari, kesempatan memperoleh pendidikan, kerja dan kedudukan.
  • Perempuan seringkali terpaksa menikah pada usia muda, karena tekanan ekonomi atau orang tua mendorong untuk cepat menikah agar terlepas dari beban ekonomi
  • Keterbatasan perempuan dalam pengambilan keputusan untuk kepantingan dirinya, misalnya dalam ber KB, dalam memilih bidan sebagai penolong persalinan atau dalam mendapat pertolongan segera di RS ketika diperlukan, disamping kurangnya kesempatan mengendalikan penghasilan keluarga.
  • Tingkat pendidikan perempuan yang belum merata dan masih rendah menyebabkan  informasi yang diterima tentang kesehatan reproduksi sangat terbatas. Seperti diketahui, tingkat pendidikan yang meningkat dapat meningkatkan rasa percaya diri, wawasan dan kemauan untuk mengambil keputusan yang baik bagi diri dan keluarga, termasuk yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.
  1. Akses ke fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan
  • jarak ke fasilitas kesehatan yang cukup jauh dan sulit dicapai
  • Kurangnya informasi tentang kemampuan fasilitas kesehatan
  • Keterbatasan biaya
  • Tradisi yang menghambat pemanfaatan tenaga dan fasilitas kesehatan
  1. Kualitas pelayanan kesehatan reproduksi yang kurang memadai, antara lain karena:
  • Pelayanan kesehatan yang kurang memperhatikan kebutuhan klien
  • Kemampuan fasilitas kesehatan yang kurang memadai
  1. Beban ganda, tanggung jawab tidak proporsional sehingga kesehatan anak  perempuan semakin buruk
  2. Akses untuk pelayanan kespro rendah karena:
  •  Pengetahuan tentang seksualitas dan informasi mengenai hak reproduksi masih rendah.
  • Menonjolnya perilaku seksual resiko tinggi
  • Diskriminasi sosial
  • Sikap negatif terhadap perempuan dan anak perempuan
  • Rendahnya kemampuan dalam pengendalian kahidupan seksual pada reproduksi

7. Kurangnya penanganan kespro dan seksual pada laki-laki dan perempuan usia lanjut

8. Kebijakan dan program kesehatan masih belum mempertimbangkan perbedaan sosial, ekonomi dan perbedaan lainnya antara perempuan dan masih rendahnya kemandirian perempuan.

PERAN BIDAN SKRINING UNTUK KEGANASAN DAN PENYAKIT SISTEMIK

  1. Memberikan motivasi pada para wanita untuk melakukan pentingnya melakukan langkah skrining.
  2. Membantu dalam mengidentifikasi orang-orang yang berisikoterkena penyakit atau

masalah kesehatan tertentu. Penegakan diagnosis pasti ditindak lanjuti di fasilitas kesehatan

  1. Membantu mengidentifikasi penyakit pada stadium dini,sehingga terapi dapat dimulai secepatnya dan prognosa penyakit dapat diperbaiki
  2. Membantu melindungi kesehatan individual
  3. Membantu dalam pengendalian penyakit infeksi melalui proses identifikasi carrier  penyakit di komunitas
  4. Memberikan penyuluhan dalam pemilihan alat kontrasepsi dengan metode barrier  (pelindung) seperti diafragma dan kondom karena dapat memberi perlindungan  terhadap kanker serviks
  5. Memberikan fasilitas skrining kanker serviks dengan metodepap smear kemudian membantu dalam pengiriman hasil pemeriksaan kelaboratorium.

SISTIM RUJUKAN

Salah satu bentuk pelaksanaan dan pengembangan upaya kesehatan dalam Sistem kesehatan Nasional (SKN) adalah rujukan upaya kesehatan. Untuk mendapatkan mutu pelayanan yang lebih terjamin, berhasil guna (efektif) dan berdaya guna (efesien), perlu adanya jenjang pembagian tugas diantara unit-unit pelayanan kesehatan melalui suatu tatanan sistem rujukan. Dalam pengertiannya, sistem rujukan upaya kesehatan adalah suatu tatanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas timbulnya masalah dari suatu kasus atau masalah kesehatan masyarakat, baik secara vertikal maupun horizontal, kepada yang berwenang dan dilakukan secara rasional.

Pembagian sistim rujukan adalah:

  1. Menurut tata hubungannya
    1. Rujukan Internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan di dalam institusi tersebut. Misalnya dari jejaring puskesmas (puskesmas pembantu) ke puskesmas induk
    2. Rujukan Eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit-unit dalam jenjang pelayanan kesehatan, baik horizontal  (dari puskesmas rawat jalan ke puskesmas rawat inap) maupun vertikal (dari puskesmas ke rumah sakit umum daerah).
  1. Menurut lingkup pelayanannya
    1. Rujukan Medik adalah rujukan pelayanan yang terutama meliputi upaya penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Misalnya, merujuk pasien puskesmas dengan penyakit kronis (jantung koroner, hipertensi, diabetes mellitus) ke rumah sakit umum daerah.
    2. Rujukan Kesehatan adalah rujukan pelayanan yang umumnya berkaitan dengan upaya peningkatan promosi kesehatan (promotif) dan pencegahan (preventif). Contohnya, merujuk pasien dengan masalah gizi ke klinik konsultasi gizi (pojok gizi puskesmas), atau pasien dengan masalah kesehatan kerja ke klinik sanitasi puskesmas (pos Unit Kesehatan Kerja).

Jika ditemukan skrining dan deteksi dini pada kasus yang gawatdarurat, maka bidan dapat merujuk ke fasilitas pelayanan yang berkualitas.

Bidan mempersiapkan rujukan “BAKSOKUDA”.

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, arif M. 1998. Sinopsis Ostetri. Jilid I. Jakarta: EGC

Reryanto achmad. 2012. Asuhan Kebidanan Patologis. Edisi kedua. Jakarta: Salemba medika.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

POSTTERM

 

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian

Definisi Kehamilan Lewat waktu (PosT Term) adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu Lengkap. ( ILmu kebidanan: hal 317).

Postmatur menunjukan atau menggambarkan kaadaan janin yang lahir telah melampauhi batas waktu persalinannya, sehingga dapat menyebabkan beberapa komplikas.i(Buku Pengantar Kuliah Obsetri: hal 450)

Definisi standar untuk kehamilan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir, atau 280 hari setelah ovulasi. Istilah lewat bulan ( postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin. ( Varney Helen,2007)

B. Etiologi

Etiologi menurut Nwosu dkk factor-faktor yg menyebabkan post matur stress, sehingga tidak timbulnya His Kurangnya air ketuban Insufisiensi plasenta ( ILmu Kebidanan: hal.318)

Namun ada juga yang berpendapat Etiologinya masih belum pasti. Faktor yang dikemukakan adalh hormonal yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang ( Mochtar, Rustam, 1999). Diduga adanya kadar kortisol yang rendah pada darah janin. Selain itu, kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta juga diduga berhubungan dengan kehamilan lewat waktu.

Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu, kemudian menurun setelah 42 minggu, terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta. Terjadi juga spasme arteri spiralis plasenta. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin. Sirkulasi uteroplasenta berkurang sampai 50%.Volume air ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi. Keadaan-keadaan ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin. Risiko kematian perinatal pada bayi postmatur cukup tinggi : 30% prepartum, 55% intrapartum, 15% postpartum.

Selain itu juga terjadinya kehamilan sirotinus antara lain:

1. Hipoplasia hipofise

2. Anensefalus

3. Devisiensi enzim sulfarase plasenta

4. Hormon estriol yang rendah

C. Pengaruh pada Kehamilan, Persalinan dan Nifas

1. Terhadap Ibu

Persalinan postmatur dapat menyebabkan distosis karena aksi uterus tidak terkoordinir, Janin besar, Moulding kepala kurang. Maka akan sering dijumpai : partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu dan perdarahan postpartum. Hal ini akan menaikan angka mordibitas dan mortalitas.

2. Terhadap janin

Jumlah kematian janin/ bayi pada kehamilan 43 minggu tiga kali lebih besar dari kehamilan 40 minggu karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. Pengaruh postmaturitas pada janin bervariasi: berat badan janin dapat bertambah besar, tetap dan ada yang berkurang, sesudah kehamilan 42 minggu. Ada pula yang bisa terjadi kematian janin dalam kandungan.

D. Diagnosa

Dengan mengetahui hari pertama menstruasi maka kita akan dapat menentukan:

1. Perhitungan kemungkinan waktu persalinan menurut Naegle

2. Hasil pemeriksaan antenatal berupa:

a) Janin besar untuk masa kehamilan (BMK)

b) Janin kecil untuk masa kehamilan (KMK)

c) Janin sama besarnya untuk masa kehamilan (SMK)

3. Melalui perkiraan tahap aktivitas janin dalam rahim yang (sudah baku)

4. Perbandingan dengan orang lain yang sudah bersalin

5. Menggunakan ultrasonografi untuk memperkirakan berat, waktu persaliunan, menentukan biofisik profil janin, kesejahteraan intraureti. USG, Ukuran diameter bipariental, gerakan janin dan jumlah air ketuban

6. Pemeriksaan rontgenologik, dapat dijumpai pusat-pusat penulangan pada bagian distal femur, bagian proksimal tibia, tulang kuboid, diameter bipariental 9,8 cm atau lebih.

7. Pemeriksaan sitologik air ketuban : air ketuban diambil dengan amniosentesis, baik transvaginal maupun transabdominal. Air ketuban akan bercampur lemak dari sel-sel kulit yang dilepas janin setelah kehamilan mencapai lebih dari 36 minggu. Air ketuban yang diperoleh dipulas dengan sulfat biru nil maka sel-sel yang mengandung lemak akan berwarna jingga. Bila :

a. Melebihi 10% : kehamilan di atas 36 minggu

b. Melebihi 50% : kehamilan di atas 39 minggu

8. Amnioskopi : melihat derajat kekeruhan air ketuban, menurut warnanya karena dikeruhi mekonium.

9. Kardiotografi : mengawasi dan membaca DJJ, karena insufiensi plasenta

10. Uji Oksitosin (stress test) : yaitu dengan infus tetes oksitosin dan diawasi reaksi janin terhadap kontraksi uterus. Jika ternyata reaksi janin kurang baik, hal ini mungkin janin akan berbahaya dalam kandungan.

11. Pemeriksaan kadar estriol dalam urin

12. Pemeriksaan PH darah kepala janin

13. Pemeriksaan sitologi vagina

(Menurut Rustam Mochtar, Sinopsis Obstetri Jilid I, 1998)

Kita sering kali sukar menetapkan diagnosis kehamilan sirotinus,khususnya di Negara berkembang tetapi dapat di gunakan beberapa criteria berikut:

1. Detag jantung Janin mulai terdengar

a) Fondoskop pada minggu 18

b) Dopller pada minggu 12

2. Quickening terasa mulai minggu 18

a) Fundus uteri setinggi pusat pada minggu 20

Dendang memeriksakan USG perkiraan usui kehamilan akan lebih tepat untuk kehamilan trimester I dan II, sedangkan pada Trimester III sering kurang cepat. Kenyataan ini sering terjadi oleh karena pertumbuhan janin dalam rahim tidak tetap artinya bukan merupakan pertumbuhan linier.

Perubahan yang mendasar yang terjadi pada kehamilan sirotinus atau postmatur bersumber dari kemampuan plasenta untuk memberikan nutrisi dan oksigen serta kemampuan fungsi lainya, dan dapat menyebabkan keadaan sebagai berikut:

1. Jika fungsi plasenta masih cukup baik dapat menyebabkan:

a. Tumbuh kembang janin berlangsung terus,sehingga berat badan terus bertambah sekalipun lambat,dapt mencapai lebih dari 4000-4500gr yang di sebut dengan bayi makrosomia’

b. Bayi postmaturel hipermaturel dengan criteria:

  • · Mungkin dengan berat badsan yang besar atau makrosomia
  • · Kukun panjang
  • · Penulangan baik
  • · Tulang rawan telinga sudah cukup
  • · Pertumbuhan genetalia sekunder sudah ada
  • · Mata besar dan terbuka

2. Jika fungsi plasenta telah mengalami disfungsi atau insufisiensi, sehingga tidak mampu mamberikan nutrisi dan oksigen yang cukup,akan terjadi sebaliknya dan di sebut sebagai sindron postmature dengan criteria berikut:

a. Bayi tampak tua

b. Kuku panjang

c. Lipid kulit berkurang sehingga menimbulkan keriput terutama di kulit tangan dan kaki

d. Matanya lebar bahkan sudah terbuka

e. Verniks caseosa telah hilangatau berkuran

Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan

Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan, dengan memperhatikan tanda-tanda postmaturitas yang dapat dibagi dalam 3 stadium :

1. Stadium I : kulit tampak kering, rapuh dan mudah mengelupas(maserasi), verniks kaseosa sangat sedikit sampai tidak ada.

2. Stadium II : keadaan kulit seperti stadium I disertai dengan pewarnaan kulit yang kehijauan oleh mekoneum yang bercampur air ketuban.

3. Stadium III : terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku dan kulit janin serta pada jaringan tali pusat.Pada saat persalinan, penting dinilai keadaan cairan ketuban. Jika telah terjadi pewarnaan mekonium (kehijauan) atau bahkan pengentalan dengan warna hijau kehitaman, begitu bayi lahir harus segera dilakukan resusitasi aktif. Idealnya langsung dilakukan intubasi dan pembilasan trakhea.

E. Komplikasi

Kemungkinan komplikasi pada bayi postmaturhipoksia ;

1. Hipovolemia

2. Asidosis

3. Sindrom gawat napas

4. Hipoglikemia

5. Hipofungsi adrenal.

Persalinan janin makrosomia pervaginam akan menimbulkan trauma pada bayi dan maternal yang makin tinggi

1. Komplikasi trauma pada janin atau bayi

a. Asfiksia karena terlalu lama terjepit

b. Truma akibat tindakan oprasi yang di lakukan pervaginam dengan bentuk trias komplikasi:

1) Infeksi

2) Asfiksia

3) Trauma langsung dan perdarahan

2. Komplikasi maternal “trias komplikasi”

a. Trauma langsung persalinan pada jalan lahir:

1) Robekan luas

2) Fistula rekto-vasiko vaginal

3) Ruptura perineum tingkat lanjut

b. Infeksi karena terbukanya jalan halir secara luas senghingga mudah terjadi kontaminasi bacterial.

c. Perdarahan:

1) Trauma langsung jalan lahir

2) Atonia uteri

3) Retentio Plasenta

F. Penatalaksanaan

1. Setelah usia kehamilan > 40-42 minggu yang penting adalah monitoring janin sebaik-baiknya.

2. Apabila tidak ada tanda-tanda insufisiense plasenta, persalinan spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat

3. Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan serviks, kalau sudah matang boleh dilakukan induksi persalinan dengan atau tanpa amniotomi.

4. Bila :

a. Riwayat kehamilan yang lalu ada kematian janin dalam rahim

b. Terdapat hipertensi, pre-eklampsia

c. Kehamilan ini adalah anak pertama karena infertilitas

d. Pada kehamilan > 40-42 minggu

Maka ibu dirawat di rumah sakit :

1. Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada

a. Insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang

    1. Pembukaan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi gawat janin, atau
    2. Pada primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pre-eklampsia, hipertensi menahun, anak berharga (infertilitas) dan kesalahan letak janin.

2. Pada persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama akan sangat merugikan bayi, janin postmatur kadang-kadang besar dan kemungkinan diproporsi sefalo-pelvik dan distosia janin perlu dipertimbangkan. Selain itu janin postmatur lebih peka terhadap sedatif dan narsoka, jadi pakailah anestesi konduksi.

(Menurut Rustam Mochtar, Sinopsis Obstetri Jilid I, 1998)

Pertimbangan Persalinan Anjuran (induksi)

Persalinan anjuran bertujuan untuk dapat :

1. Merangsang otot rahim berkontraksi, sehingga persalinan berlangsung

2. Membuktikan ketidakseimbangan antara kepala janin dengan jalan lahir bishop telah menetapkan beberapa penilaian agar persalinan induksi dapat berhasil seperti yang ditujukan pada tabel berikut :

Keadaan fisik

Nilai

Total Nilai

Pembukaan serviks 0 cmPerlunakan 0-30%

Konsistensi serviks kaku

Arah serviks ke belakang

Kedudukan bagian terendah -3

0

0

Pembukaan 1-2 cmPerlunakan serviks 40-50%

Konsistensi serviks sedang

Arah serviks ke tengah

Kedudukan bagian terendah -2

1

1

Pembukaan 3-4 cmPerlunakan 60-70%

Konsistensi serviks lunak

Kedudukan bagian terendah -1-0

2

2

Pembukaan di atas 5 cmPerlunakan 80% +

3

3

Persalinan anjuran atau induksi persalinan dapat dilakukan dengan metode:

1. Metode Stein

Persalinan anjuran mulai pagi hari.

a. Pukul 6.00 : 30 cc oleum ricini

b. Pukul 7.00 : bisulfas kinine 0,200 gr

c. Pukul 8.00 : bisulfas kinine 0,200 gr + klisma air sabun hangat 1 liter

d. Pukul 9.00 : bisulfas kinine, suntikan pituitrin 0,2 cc

e. Pukul 10.00 : bisulfas kinine, suntikan pituitrin 0,2 cc

f. Pukul 11.00 : bisulfas kinine, suntikan pituitrin 0,2 cc

g. Pukul 12.00 : bisulfas kinine, suntikan pituitrin 0,2 cc

h. Pukul 14.00 : hanya suntikan pituitrin 0,2 cc

i. Pukul 16.00 : hanya suntikan pituitrin 0,2 cc

j. Pukul 18.00 : hanya suntikan pituitrin 0,2 cc

Sekalipun metode stein sudah ditinggalkan, tetapi untuk pengetahuan bidan masih perlu diketahui. Selama metode stein, kehamilan lewat waktu akan mendapatkan :

a. 1,2 gr bisulfas kinine

b. 1,4 cc pituitrin injeksi

Persalinan anjuran dengan metode ini di luar rumah sakit berbahaya karena dapat terjadi :

a. Kontraksi rahim yang kuat sehingga dapat mengancam :

1) Ketuban pecah saat pembukaan kecil

2) Ruptura uteri membakat

3) Gawat janin dalam rahim

a.Kelambatan melakukan rujukan, dapat merugikan penderita.

b.Persalinan anjuran dengan infus pituitrin (sintosinon)

2. Persalinan anjuran dengan infus oksitosin, pituitrin atau sintosinon 5 unit dalam 500 cc glukosa 5%, banyak dipergunakan.

Teknik induksi dengan infus glukosa lebih sederhana, dan mulai dengan 8 tetes, dengan teknik maksimal 40 tetes/menit. Kenaikan tetesan setiap 15 menit sebanyak 4 sampai 8 tetes sampai kontraksi optimal tercapai. Bila dengan 30 tetes kontraksi maksimal telah tercapai, maka tetesan tersebut dipertahankan sampai terjadi persalinan. Apabila terjadi kegagalan, ulangi persalinan anjuran dengan selang waktu 24 sampai 48 jam.

3. Memecahkan ketuban

Memecahkan ketuban merupakan salah satu metode untuk mempercepat persalinan. Setelah ketuban pecah, ditunggu sekitar 4 sampai 6 jam dengan harapan kontraksi otot rahim akan berlangsung. Apabila belum berlangsung kontraksi otot rahim dapat diikuti induksi persalinan dengan infus glukosa yang mengandung 5 unit oksitosin.

4. Persalinan anjuran dengan menggunakan prostaglandin

Telah diketahui bahwa kontraksi otot rahim terutama dirangsang oleh prostaglandin. Pemakaian prostaglandin sebagai induksi persalinan dapat dalam bentuk infus intravena (Nalador) dan pervaginam (prostaglandin vagina suppositoria).

5. Pompa Payudara atau Stimulasi Putting

Beberapa studi skala besar telah mengevaluasi keamanan dan keefektifitasaan stimulasi payudara sebagai metede induksi persalinan. Namun,efek komulatif dari banyak studi yang menggunakan pompa payudara atau stimulasi putting manual yang di kombinasi dengan landasan fisiologi perubahab serviks telah meningkatkan tres perekomendasian metode yang relative tidak berbahaya ini untuk menginduksi persalinana. Penanganan yang beragam termasuk pompa payudara listrik otomatis yang mensimulasi masing-masing payu dara selama15 menit, di selingi periode istirahat selama15 menit, stumulasi payu dara dengan pijatan lembut menggunakan kompresan hangat lembab salama 1jam sebanyak 3 kali sehari, stimulasi payudara selama 45 menit tiga kali sehari dan pijatan lembut pada kedua payudara secara bergantian selama waktu 3 jam sehari. Kelemahan penelitian ini meliputi kurangnya kepatuhan dalam melaksanakan intervensi yang di anjurkan,jumlah anggoata sedikat daklam kelompok, control minim terhadap veriabel penting,seperti usia gestasi, dan criteria intervensi yang tidak dapat di andalkan. Wanita yang mencoba teknik ini sebaiknya di peringatkan membatasi kontak dengan putting sehingga tidak terlalu hiperstimulasi uterus.

6. Minyak Jarak

Ingesti minyak jarak 60 mg yang di campur dengan jus apel atau jus jaruk tampaknya dapat menigkatkan anggka kejadian persalinan normal jika di berikan pada kehamilan cukup bulan. Investi ini memiliki beberapa kelemahan namun hanya terdapat sedikit penelitian mengenai topic ini. Waktu yang tepat untuk memberikan minyak jarak dalam menginduksi persalinan adalah setelah tidur malam yang lelap dan 1 hingga 2 jam sebelum wanita hamil bangun setiap hari.. Minyak jarak bekerja dengan manstimulasi saraf fagus sehingga akan menrangsang uterus . Cara kerja ini akan berlanggsung dalam 2 hingga 6 jam.

7. Kateter Folay atau Kateter Balon

Kateter Folay memiliki beberapa manfaat sabagai alat mekanis yang di gunakan untuk meregangkan serviks. Kateter ini mudah di dapatkan relative aman untuk di gunakan, ekonomis, mudah di pasang dan mudah di pasang dan mudah di lepas.

Selain itu pemantauan janin tidak perlu di lakukan saat kateter di gunakan, karena Kateter Ini juga mempunyai kelebihan manfaat bila di kombinasi dengan metode hormone untuk mematangkan serviks. Secara umum biasanya kateter ukuran 16 di masukan melalui saluran serviksa, dan kemudian balon diisi udara sebanyak 20 hingga 50 mililiteruntuk menjaga kateter tetep pada tempatnya. Beberapa uji klinis secara kecil membuktikan teknik ini sangat menjanjikan dan banyak subjek pada uji tersebut memasuki awal persalinan dengan Folay masih terpasang. Efek yang sama terlihat pada penggunaan laminaria dan dilater osmosis sintetik.

8. Aktivitas Seksual, Jamu-jamuan

Banyak bidan secara rutin atau memanipulasi genetalia jika membrane masih utuh , stimulasi payudara dan putting atau metode jamu-jamuan untuk mempercepat persalinan.Meminum jamu-jamuan seperti evening primrose oil, black cohosh tincture dan blue cohosh tincture dapat membantu namun kurangnya penelitian yang member panduan untuk dosis, keamanan dan dan metode ini mengurangkan niat bidan untuk menganjurkanya. Akupuntur dan hemoepati merupakan metode tambahan untuk induksi persalinan.

(Menurut Manuaba dalam Buku Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB Untuk Pendidikan Bidan, 1998) dan ( Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4 Vol 1 hal:666)

Sikap bidan dalam penanganan kehamilan lewat waktu

Kehamilan lewat waktu dapat membahayakan janin karena sensitif terhadap rangsangan kontraksi, yang menimbulkan asfiksia sampai kematian dalam rahim. Dalam melakukan pengawasan hamil dapat diperkirakan bahwa kehamilan lewat waktu dengan :

  1. Anamnesa.
  2. Kehamilan belum lahir setelah melewati waktu 42 minggu
  3. Gerak janinnya makin berkurang dan kadang-kadang berhenti sama sekali.

Hasil anamnesa penderita perlu diperhatikan sebagai dasar permulaan.

  1. Hasil pemeriksaan

Hasil pemeriksaan dapat dijumpai :

a. Berat badan ibu mendatar atau menurun

b. Air ketuban terasa berkurang

c. Gerak janin menurun

2. Bagaimana sikap bidan

Menghadapi keadaan demikian bidan dapat bersikap :

a. Melakukan konsultasi dengan dokter

b. Menganjurkan untuk melakukan persalinan di rumah sakit

c. Penderita dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan yang adekuat.

(Menurut Manuaba dalam Buku Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB Untuk Pendidikan Bidan, 1998)

Pengelolaan Intrapartum

  1. Pasien tidur miring sebelah kiri
  2. Pergunakan pemantauan elektronik jantung janin
  3. Beri oksigen bila ditemukan keadaan jantung yang abnormal
  4. Perhatikan jalannya persalinan
  5. Segera setelah lahir, bayi harus segera diperiksa terhadap kemungkinan hipoglikemi, hipovolemi, hipotermi dan polisitemi

(Dikutip dari Buku Maternal dan Neonatal, 2002)

Mencegah Aspirasi Mekoneum

Apabila ditemukan cairan ketuban yang terwarnai mekoneum harus segera dilakukan resusitasi sebagai berikut :

  1. Penghisapan nasofaring dan drofaring posterior secara agresif sebelum dada janin lahir
  2. Bila mekoneum tampak pada pita suara, pemberian venitasi dengan tekanan positif dan tangguhkan dahulu sampai trakea telah di latubasi dan penghisapan yang cukup.
  3. Intubasi trakea harus dilakukan rutin bila ditemukan mekoneum yang tebal.

(Dikutip dari Buku Maternal dan Neonatal, 2002)

II. TINJAUAN KASUS

Pengkajian dilakukan tanggal 7 Maret 2010 pukul 13.00 WIB di ruang perawatan kebidanan RSUD Margono Soekarjo Purwokerto. Ibu mengatakan bahwa kehamilannya sudah lewat bulan.

  1. PENGKAJIAN

DATA SUBJEKTIF

A. Biodata

Nama ibu                       : Ny.Y Nama ayah : Tn.A

Umur                             : 21 tahun Umur : 26 th

Agama                           : Islam Agama : islam

Suku / bangsa                : Indonesia Suku / bangsa : indonesia

Pendidikan                     : SMA Pendidikan : SMA

Pekerjaan                       : Ibu rumah tangga Pekerjaan : swasta

Alamat                           : Purwokerto Alamat : Purwokerto

B. Anamnesa

Pada tanggal 7 Maret 2010 Pukul 13.00 WIB

1. Alasan Datang : Ibu datang ke RSUDN Margono Soekarjo Purwokert pada tanggal 7 Maret 2010 mengaku hamil lewat bulan, anak pertama, mules (-), lendir darah (-), air-air (-), dan gerakan anak masih dirasakan.

2. Keluhan Utama : Ibu merasa cemas dengan kehamilannya yang lebih bulan

3. Riwayat Penyakit

a. Riwayat penyakit yang diderita pasien

1) Penyakit menular (AIDS/HIV, TBC, Sifilis) : tidak ada

2) Penyakit Keturunan (Hipertensi, Jantung, ginjal) : tidak ada

3) Penyakit yang pernah diderita pasien : tidak ada

4) Riwayat operasi yang pernah dijalani : tidak ada

b. Riwayat penyakit keluarga/keturunan

1) Penyakit menular (AIDS/HIV, TBC, Sifilis) : tidak ada

2) Penyakit Keturunan (Hipertensi, jantung, ginjal) : tidak ada

3) Keturunan kembar : tidak ada

4. Riwayat Obstetrik

a. Riwayat Menstruasi

Menarche        : 14 Tahun

Warna              : Merah kehitaman

Siklus              : 28 hari

Jumlah             : 2 kali ganti pembalut perhari

Lamanya                     : 7 hari

Dismenorhoe               : tidak ada

b. Riwayat kehamilan sekarang

HPHT                          : 10 Mei 2009

ANC                            : 6 kali di bidan

HPL                             : 17 Februari 2010

Tablet Fe                     : 90 tablet sudah habis diminum

Usia Kehamilan           : 42 minggu 4 hari

TT                                : 6X dibidan

Keluhan selama hamil :

Trimester 1 : mual, pusing

Saran : Istirahat teratur, makan sedikit tapi sering

Trimester II : tidak ada

Trimester III : nyeri pinggang

Saran : Pandkes ketidaknyamanan nyeri pinggang

c. Riwayat Kehamilan,Persalinan dan Nifas yang lalu.

No Tgl lhr Usia kehamilan Jenis persalinan Tempat persalinan Komplikasi Penolong Bayi Nifas
Umur Ibu Bayi PB/BB

jenis

Keadaan Keadaan Laktasi
1. Hamil ini                    
                       

5. Data Kebiasaan sehari-hari

a. Pola Nutrisi

Makan : 3x sehari

Pagi : nasi,lauk, secangkir teh manis

Siang : sepiring nasi,ikan,semakuk sayur dan buah

Malam : sepiring nasi,tempe dan semangkuk sayur

Minum : 8-10 gelas perhari

b. Pola istirahat dan Aktivitas

Tidur / Istirahat malam : ± 6-7 jam / hari

Tidur / istirahat siang : ± 1-2 jam / hari

Aktivitas : pekerjaan rumah tangga

c. Pola Eliminasi

BAB

– Frekuensi : 1-2 x sehari

– Konsistensi : lembek

– Warna : kuning kecoklatan

– Penyulit : tidak ada

BAK

– Frekuensi : 5-7x perhari

– Konsistensi : cair

– Penyulit : tidak ada

– Warna : kuning jernih

d. Personal Hygiene

Mandi                          : 2x sehari

Gosok gigi                   : 2x sehari

Ganti pakaian dalam   : 2x dan apabila lembab

6. Riwayat Perkawinan

Kawin : 1 kali dengan suami sekarang

Lamanya : 1 tahun

Umur waktu kawin : 18 tahun

7. Riwayat KB

Pernah mendengar tentang KB : pernah

Pernah menjadi akseptor KB : belum pernah

Jenis kontrasepsi yang digunakan : tidak ada

Lama menjadi akseptor KB : –

Alasan berhenti menjadi akseptor KB : –

8. Data Psikososial

Hubungan ibu dengan suami dan keluarga : baik

Tanggapan ibu, suami, dan keluarga terhadap kehamilan ini : menerima

Pengambil keputusan keluarga : suami

Adat / kebiasaan yg dilakukan mempengaruhi kehamilan : tidak ada

Kebiasaan merokok dan minum-minuman keras : tidak ada

Rencana tempat Persalinan : bidan

DATA OBJEKTIF

A. Pemeriksaan fisik

Keadaan Umum : baik

Kesadaran : compos mentis

Tinggi Badan : 160 cm

Berat Badan : 68 kg

Lila : 26 cm

Tanda-tanda vital

Tekanan darah : 100/80 mmHg

Suhu : 36,6 0C

Pulse : 80 X/menit

RR : 20 X/menit

B. Pemeriksaan Kebidanan

Inspeksi

a. Kepala

Rambut : Rambut bersih, tidak rontok

Mata : Konjungtiva tidak anemi, sclera tidak ikterus

Hidung : Bersih, tidak ada polip

Mulut : Bersih, tidak ada caries gigi dan sariawan

Muka : Tidak ada cloasma gravidarum

b. Leher

Pembengkakan kelenjar tiroid : tidak ada

Pembesaran vena juguralis : tidak ada

Pembesaran kelenjar limfe : tidak ada

c. Dada

Mamae : simetris

Areola mamae : hiperpigmentasi

Putting susu : menonjol

Colostrum : ada

d. Abdomen

Pembesaran : simetris

Striae livide : ada

Linea nigra : ada

Linea Albicans : tidak ada

Striae albicans : tidak ada

Luka bekas operasi : tidak ada

e. Genetalia eksterna :

oedema : tidak ada

Varises : tidak ada

Pengeluaran : tidak ada.

f. Ekstremitas

Atas : tidak ada kelainan

Bawah : tidak ada varices

Refkleks patella : +

Palpasi

Leopold 1 : Teraba bagian besar, bulat dan tidak melenting, TFU 3 jari bawah px (Mc.Donald :33 cm)

Leopold II : Kanan : Teraba bagian kecil janin

Kiri : Teraba bagian keras memanjang seperti ada tahanan.

Leopold III : Teraba bagian bulat, keras dan melenting serta tidak dapat digoyangkan

Leopold IV : Kedua tangan sejajar

TBBJ : ( 33 – 12 ) x 155 = 3255gram

His : ( – )

Auskultasi

DJJ : ( + )

Frekuensi : 145 x / menit

Sifat : Teratur

Lokasi : Di bawah pusat sebelah kiri perut ibu

Pemeriksaan Dalam

Tidak dilakukan

C. Pemeriksaan Penunjang

Tidak dilakukan

II. INTERPRETASI DATA

Diagnosa :Ny.A umur 21 tahun G1P0A0 hamil 42 minggu janin tunggal hidup intra uteri, presentasi kepala dengan hamil post matur.

Data dasar :

DS :

– Ibu mengatakan bernama Ny. A berumur 21 tahun, hamil pertama kali belum pernah melahirkan dan tidak pernah keguguran dan HPHT 10 Mei 2009

DO :

– Leopold I : teraba bagian besar, lunak bulat tidak melenting,TFU 33 cm

– Leopold II : Kanan teraba bagian kecil janin dan kiri punggung janin

– Leopold III : presentasi kepala sudah masuk PAP

– Leopold IV : sebagian sudah masuk PAP

– DJJ + frekuensi 145x/menit

– UK = 42 minggu lebih 4 hari

III. ANTISIPASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL

Partus lama

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN AKAN TINDAKAN SEGERA ATAU KOLABORASI

Kolaborasi

V. MERENCANAKAN ASUHAN YANG MENYELURUH

1. Beritahu keadaan ibu dan janin

2. Observasi keadaan ibu dan janin.

3. Anjurkan ibu untuk banyak-banyak minum air putih.

4. Anjurkan ibu miring ke kiri

5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi sesuai advis dokter :

– I VFD Ringer Laktat + induxin ½ ampul 8 tetes per menit

VI. PELAKSANAAN

Pada tanggal 7 Maret 2010 Pukul 13.30 WIB

1. Memberitahu keadaan ibu dan janin

2. Mengobservasi keadaan ibu dan janin.

3. Menganjurkan ibu untuk banyak-banyak minum air putih.

4. Menganjurkan ibu miring ke kiri

5. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi sesuai advis dokter :

– I VFD Ringer Laktat + induxin ½ ampul 8 tetes per menit

VII. EVALUASI

Pada tanggal 7 Maret 2010 Pukul 13.40 WIB

1. Ibu mengetahui keadaan ibu dan janin

2. Keadaan ibu dan janin baik.

3. Ibu mau banyak minum

4. Ibu bersedia untuk miring ke kiri

5. Telah berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi sesuai advis dokter :

– I VFD Ringer Laktat + induxin ½ ampul 8 tetes per menit

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, Gary, dkk. 2006. Obstetri William ed.21. Jakarta: EGC

Manuaba, Ida Bagus Gede. 1999, Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita.Jakarta. Arcan

Mochtar, Rustam.1998, Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC

Prawiroharjo, Sarwono.2003. Ilmu Kebidanan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Varney, Helen Dkk.2007, Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed.4 vo1. Jakarta.EGC

POSYANDU

POSYANDU

Kegiatan posyandu

A. Pengertian Posyandu

Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat, dimana masyarakat dapat sekaligus memperoleh pelayanan profesional oleh petugas  sektor, serta non profesional (oleh kader) dan diselenggarakan atas usaha masyarakat sendiri. Posyandu dapat dikembangkan dari pos pengembangan balita, pos imunisasi, pos KB, pos kesehatan. Pelayanan yang diberikan posyandu meliputi: KB, KIA, gizi, imunisasi dan penanggulangan diare serta kegiatan sektor lain.Posyandu dipandang sangat bermanfaat bagi masyarakat namun keberadaannya di masyarakat kurang berjalan dengan baik, oleh karena itu pemerintah mengadakan revitalisasi posyandu. Revitalisasi posyandu merupakan upaya pemberdayaan posyandu untuk mengurangi dampak dari krisis ekonomi terhadap penurunan status gizi dan kesehatan ibu dan anak. Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam menunjang upaya mempertahankan dan meningkatkan status gizi serta kesehatan ibu dan anak melalui peningkatan kemampuan kader, manajemen dan fungsi posyandu.Kegiatan revitalisasi posyandu pada dasarnya meliputi seluruh posyandu dengan perhatian utamanya pada posyandu yang sudah tidak aktif/rendah stratanya (pratama dan madya) sesuai kebutuhan, posyandu yang berada di daerah yang sebagian besar penduduknya tergolong miskin, serta adanya dukungan materi dan non materi dari tokoh masyarakat setempat dalam menunjang pelaksanaan kegiatan posyandu. Dukungan masyarakat sangat penting karena komitmen dan dukungan mereka sangat menentukan keberhasilan dan kesinambungan kegiatan posyandu. Kontribusi posyandu dalam meningkatkan kesehatan bayi dan anak balita sangat besar, namun sampai saat ini kualitas pelayanan posyandu masih perlu ditingkatkan. Keberadaan kader dan sarana yang ada merupakan modal dalam keberlanjutan posyandu. Oleh karena itu keberadaan posyandu harus terus ditingkatkan sehingga diklasifikasikan menjadi 4 jenis yaitu posyandu pratama, madya, purnama, dan mandiri.

B. Tujuan Posyandu

  1. Menurunkan angka kematian bayi, anak balita dan angka kelahiran
  2. Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu untuk menurunkan IMR
  3. Mempercepat penerimaan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS).
  4. Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang kemampuan hidup sehat.
  5. Pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam usaha meningkatkan cakupan penduduk dan geografis
  6. Peningkatan dan pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka alih teknologi untuk swakelola usaha-usaha kesehatan masyarakat.

C. Pengelola Posyandu.

  1. Penanggungjawab umum : Kades/LurahS
  2. Penggungjawab operasional : Tokoh Masyarakat
  3. Ketua Pelaksana : Ketua Tim Penggerak PKK
  4. Sekretaris : Ketua Pokja IV Kelurahan/desa
  5. Pelaksana: Kader PKK, yang dibantu Petugas KB-Kes (Puskesmas).

D. Pembentukan Posyandu.

a. Langkah – langkah pembentukan :

  1. Pertemuan lintas program dan lintas sektoral tingkat kecamatan.
  2. Survey mawas diri yang dilaksanakan oleh kader PKK di bawah bimbingan teknis unsur kesehatan dan KB .
  3. Musyawarah masyarakat desa membicarakan hasil survey mawas diri, sarana dan prasarana posyandu, biaya posyandu
  4. Pemilihan kader Posyandu.
  5. Pelatihan kader Posyandu.
  6. Pembinaan.

 b. Kriteria pembentukan Posyandu.

Pembentukan Posyandu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan Puskesmas agar pendekatan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat lebih tercapai sedangkan satu Posyandu melayani 100 balita.

c. Kriteria kader Posyandu :

  1. Dapat membaca dan menulis.
  2. Berjiwa sosial dan mau bekerja secara relawan.
  3. Mengetahui adat istiadat serta kebiasaan masyarakat.
  4. Mempunyai waktu yang cukup.
  5. Bertempat tinggal di wilayah Posyandu.
  6. Berpenampilan ramah dan simpatik.
  7.  Diterima masyarakat setempat.

d. Pelaksanaan Kegiatan Posyandu.

Posyandu dilaksanakan sebulan sekali yang ditentukan oleh Kader, Tim Penggerak PKK Desa/Kelurahan serta petugas kesehatan dari Puskesmas, dilakukan pelayanan masyarakat dengan system 5 meja yaitu :

Meja I              : Pendaftaran.

Meja II            : Penimbangan

Meja III           : Pengisian KMS

Meja IV           : Penyuluhan perorangan berdasarkan KMS.

Meja V            : Pelayanan KB & Kes :

  1. Imunisasi
  2. Pemberian vitamin A Dosis Tinggi berupa obat tetes ke mulut tiap bulan Februari dan Agustus.
  3. Pembagian pil atau kondom
  4. Pengobatan ringan.
  5. Kosultasi KB-Kesehatan

Petugas pada Meja I s/d IV dilaksanakan oleh kader PKK sedangkan Meja V merupakan meja pelayanan paramedis (Jurim, Bindes, perawat dan petugas KB).

E. Kegiatan Posyandu

Beberapa kegiatan diposyandu diantaranya terdiri dari lima kegiatan Posyandu (Panca Krida Posyandu), antara lain:

  1. Kesehatan Ibu dan Anak
    1. Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, melahirkan dan menyusui, serta bayi, anak balita dan anak prasekolah
    2. Memberikan nasehat tentang makanan guna mancegah gizi buruk karena kekurangan protein dan kalori, serta bila ada pemberian makanan tambahan vitamin dan mineral
    3. Pemberian nasehat tentang perkembangan anak dan cara stimilasiny
    4. Penyuluhan kesehatan meliputi berbagai aspek dalam mencapai tujuan program KIA.
  2. Keluarga Berencana
    1. Pelayanan keluarga berencana kepada pasangan usia subur dengan perhatian khusus kepada mereka yang dalam keadaan bahaya karena melahirkan anak berkali-kali dan golongan ibu beresiko tinggi
    2. Cara-cara penggunaan pil, kondom dan sebagainya

3. Immunisasi

Imunisasi tetanus toksoid 2 kali pada ibu hamil dan BCG, DPT 3x, polio 3x, dan

campak 1x pada bayi.
4. Peningkatan gizi

  1. Memberikan pendidikan gizi kepada masyarakat
  2. Memberikan makanan tambahan yang mengandung protein dan kalori cukup kepada anak-anak dibawah umur 5 tahun dan kepada ibu yang menyusui
  3. Memberikan kapsul vitamin A kepada anak-anak dibawah umur 5 tahun

5. Penanggulangan Diare

Lima kegiatan Posyandu selanjutnya dikembangkan menjadi tujuh kegiatan Posyandu (Sapta Krida Posyandu), yaitu:

  1. Kesehatan Ibu dan Anak
  2. Keluarga Berencana
  3. Immunisasi
  4. Peningkatan gizi
  5. Penanggulangan Diare
  6. Sanitasi dasar. Cara-cara pengadaan air bersih, pembuangan kotoran dan air limbah yang benar, pengolahan makanan dan minuman
  7.  Penyediaan Obat essensial.

F. Sasaran Posyandu

            Semua anggota masyarakat, terutama ibu hamil, ibu menyusui, balita, pasanga usia subur. Cakupan pelayanan sebaiknya sekitar 100 balita (120 KK) atau sesuai dengan kemampuan petugas setempat.

G. Lokasi dan Penyelenggaraan

            Berada di tempat yang mudah didatangi masyarakat dan ditentukan oleh masyarakat seperti pos pelayanan yang sudah ada, rumah penduduk, balai kelurahan. Prioritas dibentuk ditempat yang rawan dibidang gizi, kesehatan lingkungan. Pelayanan KB  kesehatan direncanakan dan dikembangkan oleh kader bersama kepala desa/ lurah LKMD (seksi KB, kesehatan dan PKK), tokoh masyarakat, pemuda, dll dengan bimbingan tim pembinaan LKMD tingkat kecamatan.

H. Syarat terbentuknya Posyandu

Posyandu dibentuk dari pos-pos yang telah ada seperti:

  1. Pos penimbangan balita
  2. Pos immunisasi
  3. Pos keluarga berencana desa
  4. Pos kesehatan
  5. Pos lainnya yang dibentuk baru.

I. Dana

            Dana pelaksanaan Posyandu berasal dari swadaya masyarakat melalui gotong royong dengan kegiatan jimpitan beras dan hasil potensi desa lainnya serta sumbangan dari donatur yang tidak mengikat yang dihimpunan melalui kegiatan Dana Sehat.

Alasan Pendirian Posyandu

  1. Posyandu dapat memberikan pelayanan kesehatn khususnya dalam upaya pencegahan penyakit dan PPPK sekaligus dengan pelayanan KB.
  2. Posyandu dari masyarakat untuk masyarakat dan oleh masyarakat, sehingga menimbulkan rasa memiliki masyarakat terhadap upaya dalam bidang kesehatan  dan keluarga berencana.

Penyelenggara Posyandu

  1. Pelaksana kegiatan, adalah anggota masyarakat yang telah dilatih menjadi kader kesehatan setempat dibawah bimbingan Puskesmas.
  2. Pengelola posyandu, adalah pengurus yang dibentuk oleh ketua RW yang berasal dari keder PKK, tokoh masyarakat formal dan informal serta kader kesehatan yang ada di wilayah tersebut.

Keberhasilan Posyandu berdasarkan :

  1. D / S : baik/kurangnya peran serta masyarakat
  2. N / D : Berhasil tidaknyaProgram posyandu

 

SISTEM INFORMASI POSYANDU (SIP)

Sistem informasi Posyandu adalah rangkaian kegiatan untuk menghasilkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan secara tepat guna dan tepat waktu bagi pengelola Posyandu. OLeh sebab itu Sistem Informasi Posyandu merupakan bagian penting dari pembinaan Posyandu secara keseluruhan. Konkritnya, pembinaan akan lebih terarah apabila di dasarkan pada informasi yang lengkap, akurat dan aktual. Dengan kata lain pembinaan merupakan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi karena didasarkan pada informasi yang tepat, baik dalam lingkup terbatas maupun lingkup yang lebih luas.

  1. Mekanisme Operasional SIP :
    1. Pemerintah Desa/kelurahan bertanggung jawab atas tersediannya data dan informasi Posyandu.
    2. Pengumpul data dan informasi adalah Tim Penggerak PKK dengan menggunakan instrumen :
      1. Catatan ibu hamil, kelahiran /kematian dan nifas oleh ketua kelompok   Dasa Wisma (kader PKK) .
      2. Register bayi dalam wilayah kerja Posyandu bulan Januari s/d Desember.
      3. Register anak balita dalam wilayah kerja Posyandu bulan Januari s/d Desember.
      4. Register WUS- PUS alam wilayah ketiga Posyandu bulan Januari s/d Desember.
      5. Register Ibu hamil dalam wilayah kerja Posyandu bulan Januari s/d Desember.
      6. Data pengunjung petugas Posyandu, kelahiran dan kematian bayi dan kematian ibu hamil melahirkan dan nifas.
      7. Data hasil kegiatan Posyandu.

Catatan :

  1. Instrumen/format SIP diatas oleh kader Posyandu dengan bimbingan teknis dari petugas kesehatan/PLKB
  2. Tim Penggerak PKK Desa/Kelurahan bertanggungjawab dalam hal :Puskesmas, PPLKB, Kaurbang mengambil data dari desa untuk dianalisis dan kemudian menjadi bahan rakor Posyandu di tingkat kecamatan.
    1. Menghimpun data dan informasi dari seluruh Posyandu yang ada dalam wilayah desa/kelurahan.
    2. Menyimpulkan seluruh data dan informasi.
    3. Menyusun data dan informasi sebagai bahan pertemuan ditingkat kecamatan (Rakorbang).
  3. Hasil analisis digunakan sebagai bahan menyusunan rencana pembinaan. Masalah-masalah yang dapat diatasi oleh Pemerintah Tingkat Kecamatan segera diambil langkah pemecahannya sedangkan yang tidak dapat dipecahkan dilaporkan ke tingkat Kabupaten/Kotamadya sebagai bahan Rakorbang Tingkat ll.
    Strata posyandu
    Posyandu Pratama  :
  1. belum mantap.
  2. kegiatan belum rutin.
  3. kader terbatas.

Posyandu Madya  :

  1. kegiatan lebih teratur
  2. Jumlah kader 5 orang

Posyandu Purnama  :

  1. kegiatan sudah teratur.
  2. cakupan program/kegiatannya baik.
  3. jumlah kader 5 orang
  4. mempunyai program tambahan

Posyandu Mandiri  :

  1. kegiatan secara terahir dan mantap
  2. cakupan program/kegiatan baik.
  3. memiliki Dana Sehat dan JPKM yang mantap.

Dari konsep diatas, dapat disimpulkan beberapa indikator sebagai penentu jenjang antar strata Posyandu adalah :

  1. Jumlah buka Posyandu pertahun.
  2. Jumlah kader yang bertugas.
  3. Cakupan kegiatan.
  4. Program tambahan.
  5. Dana sehat/JPKM.

Posyandu akan mencapai strata Posyandu Mandiri sangat tergantung kepada kemampuan, keterampilan diiringi rasa memiliki serta tanggungjawab kader PKK, LPM sebagai pengelola dan masyarakat sebagai pemakai dari pendukung Posyandu.

Pembinaan kesejahteraan keluarga

PKK adalah gerakan pembangunan masyarakat yang tumbuh dari bawah dengan wanita sebagai motor penggerakan untuk membangun keluarga sebagai unit atau kelompok terkecil dalam masyarakat dan bertujuan membantu pemerintah untuk ikut serta memperbaiki dan membina tata kehidupan dan penghidupan keluarga yang dijiwai oleh Pancasila menuju terwujudnya keluarga yang dapat menikmati keselamatan, ketenangan dan ketentraman hidup lahir dan bathin (keluarga sejahtera).

susunan kepengurusan PKK sebagai berikut :

  1. Ketua, Wakil Ketua
  2. Sekretaris, Wakil Sekretaris.
  3. Bendara Wakil Bendahara
  4. Ketua Pokja I dan anggota
  5. Ketua Pokja II dan anggota.
  6. Ketua Pokja III dan anggota.
  7. Ketua Pokja IV dan anggota.

Sebagai Ketua disemua tingkatan dijabat secara funsional oleh istri Kepala Pemerintahan Daerah setempat sampai ke tingkat Desa/Kelurahan sedangkan yang menjadi Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara dan anggota adalah dari tokoh masyarakat setempat.

  1. Program P.K.K.

Tim Penggerak PKK memiliki 10 program pokok PKK sebagai berikut :

            1. Penghayatan dan l Pengamanan Pancasila.

            2. Gotong royong

            3. Pangan

            4. Sandang.

            5. Perumahan dan tatalaksana rumah tangga.

            6. Pendidikan dan keterampilan

            7. Kesehatan.

            8. Pengembangan kehidupan berkoperasi.

            9. Kelestarian lingkungan hidup.

            10. Perencanaan sehat.

Program tersebut bukan urut-urutan tetapi program yang satu terkait dengan program yang lain dan setiap program dapat berkembang sesuai kemajuan perkembangan pembangunan daerah setempat sehingga 10 program pokok dapat menjadi berbagai kegiatan.

            Sepuluh (10) program pokok PKK tertuang ke dalam 4 (empat) kelompok kerja (Pokja) yaitu :

            1. Kelompok kerja I (Pokja I) membidangi :

  1. Penghayatan Pengamalan Pancasila
  2. Gotong royong.

            2. Kelompok Kerja (Pokja II) membidangi

  1. Pendidikan dan keterampilan.
  2. Pengembangan kehidupan berkoperasi.

            3. Kelompok Kerja (Pokja I) membidangi :

  1. Sandang
  2. Pangan
  3. Perumahan dan tatalaksana rumah tangga.

            4. Kelompok KerjaIV (Pokja IV) membidangi :

  1. Kesehatan.
  2. Kelestarian lingkungan hidup.
  3. Perencanaan sehat.

Secara khusus Kelompok Kerja IV (Pokja IV) yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan posyandu bersama dengan kader PKK khusus Posyandu serta LPM. Disamping adanya Tim Penggerak PKK Desa/Kelurahan terdapat pula kelompok PKK didusun/lingkungan dan kelompok Dasa Wisma terdiri dari 10 s/d 20 Kepala Keluarga yang ketuanya diangkat dari salah seorang dari 10 atau 20 KK tersebut yang bertugas dalam melaksanakan dan membina kegiatan program Pokok PKK dan pengembangannya dicatat dalam 3 (tiga) buku catatan ketua Kelompok Dasa Wisma yaitu :

  1. Buku catatan keluarga mencatat data keluarga secara lengkap.
  2. Buku catatan kegiatan keluarga mencatat kegiatan kehidupan keluarga.
  3. Buku catatan kelahiran dan kamatian bayi, ibu hamil, ibu meneteki (buteki) dan ibu  nifas

Ketiga buku catalan kelompok Dasa Wisma merupakan salah satu format SIP.

Daftar Pustaka

Ambarwati,Eny Retna. 2009.Asuhan Kebidanan Komunitas.Yogyakarta: Nuha Medika

Dra Suryana, 1996. Keperawatan Anak Untuk Siswa SPK : EGC, Jakarta

www.gogle.com

 

 

 

KELAINAN LETAK SUNGSANG

 TINJAUAN TEORI

Definisi

Letak sungsang merupakan suatu letak dimana bokong bayi merupakan bagian rendah dengan atau tanpa kaki (keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri.

4 tipe letak sungsang, yaitu:

gambar kelainan letak sungsang

  1. Presentasi bokong murni (frank breech) (50-70%). Pada presentasi bokong akibat ekstensi kedua sendi lutut, kedua kaki terangkat ke atas sehingga ujungnya terdapat setinggi bahu atau kepala janin. Dengan demikian pada pemeriksaan dalam hanya dapat diraba bokong.•
  2. Presentasi bokong kaki sempurna ( complete breech ) ( 5-10%). Pada presentasi bokong kaki sempurna disamping bokong dapat diraba kaki.•
  3. Presentasi bokong kaki tidak sempurna dan presentasi kaki ( incomplete or footling ) ( 10-30%). Pada presentasi bokong kaki tidak sempurna hanya terdapat satu kaki di samping bokong, sedangkan kaki yang lain terangkat ke atas. Pada presentasi kaki bagian paling rendah adalah satu atau dua kaki.

Frekuensi letak sungsang murni lebih tinggi pada kehamilan muda dibanding kehamilan tua dan multigravida lebih banyak dibandingkan dengan primigravida.

Penyebab Terjadinya Letak Sungsang

1)      Terdapat plasenta previa

Plasenta previa adalah adanya plasenta yang menutupi jalan lahir, sehingga dapat mengurangi luas ruangan dalam rahim. Plasenta previa karena menghalangi turunnya kepala ke dalam pintu atas panggul.

2)      Keadaan janin yang menyebabkan letak sungsang

  1. Makrosemia
  2. Hidrosefalus
  3. Anensefalus

Hidrosefalus adalah besarnya ukuran kepala akibat kelebihan cairan yang membuat janin mencari tempat yang lebih luas, yakni di bagian atas rahim. Kelainan bentuk kepala: hidrocephalus, anencephalus, karena kepala kurang sesuai dengan bentuk pintu atas panggul.

3)      Keadaan air ketuban

  1. Hidramnion
  2. Oligohidramnion

Jumlah air ketuban yang melebihi normal. Keadaan itu menyebabkan janin lebih leluasa bergerak walau sudah memasuki trimester ketiga.

4)      Keadaan Kehamilan

  1. Kehamilan ganda
  2. Kehamilan lebih dari dua

Menurut Fischer, ada beberapa sebab, yakni hamil kembar. Artinya, adanya lebih dari satu janin dalam rahim menyebabkan terjadinya perebutan tempat. Setiap janin berusaha mencari tempat yang lebih nyaman, sehingga ada kemungkinan bagian tubuh yang lebih besar (yakni bokong janin) berada di bagian bawah rahim.

5)      Keadaan Uterus

  1. Uterus arkuatus
  2. Plasenta dengan implantasi pada kornua

6)      Keadaan dinding abdomen

  1. Rileks akibat grandemultipara
  2. Sebab lainnya adalah multiparitas, yaitu ibu telah melahirkan banyak anak sehingga rahimnya sudah sangat elastis dan membuat janin berpeluang besar untuk berputar hingga minggu ke 37 dan seterusnya.

7)      Keadaan tali pusat

  1. Pendek
  2. Terdapat lilitan tali pusat pada leher

8)      Penyebab lain

Prematuritas karena bentuk rahim relatif kurang lonjong, Janin sudah lama mati,dan sebab yang tidak diketahui.

  1. 3.      Persalinan letak sungsang

Persalinan pada letak sungsang merupakan kontroversi karen komplikasinya tidak dapat diduga sebelumnya, terutama persalinan kepala bayi.

Dengan demikian, pertolongan persalinan mempunyai dua pendapat yang sangat kontras, yaitu:

  1. Pengnut absolut
    1. Semua bentuk letak sungsang harus dilakukan secsio sesarea, tanpa kecuali
    2. Secsio sesarea menjamin keberhasilan yang ingin dicapai, yaitu well born baby dan well health mother
    3. Penganut faham relatif Memberikan kesempatan persalinan pervaginam

Bentuk Persa

linan

Teknik Persalinan

Keterangan

Bracth teknik
  • Hiperlordose janin
  • Tekanan fundus uteri
  • Persalinan sungsang normal
  • Tanpa komplikasi
 
Partiil ekstraksi
  • Sampai umbilikus kekuatan sendiri
 
Manuil aids lovesets
  • Memutar badan bolak balik sampai bahu lahir
  • Trauma alat vital abdomen
  • Fraktur ekstremitas atas
 
Total ekstraksi

  • Ekstraksi kaki
  • Ekstraksi bokong
  • Seluruh kekuatan asal dari luar
  • Trauma alat vital abdomen
  • Fraktur atau dislokasi sendi bokong
  • Fraktur atau dislokasi ekstremitas bawah
   
Profilaksis Pinard
  • Menurunkan kaki depan
  • Memudahkan ekstraksi kaki depan
  • Fraktur atau dislokasi sendi femur
  • Fraktur kaki belakang
 
Viet Smellic Mauriceau
  • Jari masuk mulut leher dicekam
  • Tarik kebawah untuk melahirkan suboksiput
  • Tarik keatas untuk melahirkan sisa kepala
  • Robekan mulut
  • Dislokasi sendi leher
  • Gangguan pusat vital
  • Asfiksia ssampai meninggal
 
Forceps Piper dan kepala
  • Teknik pemasangan sulit
  • Kompresi daun forsep
  • Trauma langsung terhadap organ vital pada muka dan kepala
  • Truma mata dan telinga

Hanya jika dijumpai kelainan akan dilakukan secsio sesarea segera atau primer. Trauma yang paling berat dan harus difikirkan adalah trauma kepala yang menimbulkan asfiksia hingga kematian janin. Oleh karena itu, lebih aman jika persalinan dilakukan dengan secsio sesarea. Bentuk pertolongan seperti yang dikemukakan diatas belum memperhitungkan beberapa kelainan yang menyertai letak sungsang sebagai berikut,

  1. Terdapat tangan atau lengan berada di belakang kepala janin
  2. Terdapat lilitan tali pusat pada leher
  3. Terdapat kedudukan dagu depan
  4. Bayi ternyata maksrosemia

Oleh karena itu, dalam menghadapi letak sungsang perlu diperhitungkan kriteria yang dijabarkan oleh Zatuchni-Andres, yang menyatakan bahwa:

  1. Jumlah empat atau kurang mutlak dilakukan transabdominal, seksio sesarea.
  2. Penentuan berat bayi sangat penting. Kesalahan perkiraan berat akan menimbulkan morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi.
  3. Berat bayi sekitar 3500 gram atau lebih langsung dilakukan secsio sesarea.

Kemungkinan komlikasi, morbiditas, dan mortalitas pada pertolongan letak sungsang merupakan masalah kontroversi anta

ra langsung secsio sesarea atau pertolongan pervaginam.

1.Pendapat absolut dan keingingan mencapai lebih pasti well born baby dan well health mother mengemukakan bahwa sudah tidak ada lagi tempat bagi pertolongan letak sungsang trensvaginal

2.Pendapat konservatif masih memberikan kesempatan persalinan per vaginam, dan jika terdapat kesulitan akan langsung dilakukan scsio sesarea.

Prinsip Dasar Persalinan Sungsang Persalinan pervaginam

  1. Persalinan spontan; janin dilahirkan dengan kekuatan dan tenaga ibu sendiri. Cara ini disebut Bracht.

Prosedur persalinan :

–          Tahap lambat : mulai lahirnya bokong sampai pusar merupakan fase yang tidak berbahaya. 

–          Tahap cepat : dari lahirnya pusar sampai mulut, pada fase ini kepala janin masuk PAP, sehingga kemungkinan tali pusat terjepit. 

–          Tahap lama : lahirnya mulut sampai seluruh bagian kepala, kepala keluar dariruangan yang bertekanan tinggi (uterus) ke dunia luar yang tekanannya   lebih rendah  sehingga kepala harus dilahirkan perlahan-lahan untuk menghindari pendarahan intrakranial (adanya tentorium cerebellum).

Teknik persalinan

1.      Persiapan ibu, janin, penolong dan alat yaitu cunam piper. 

2.      Ibu tidur dalam posisi litotomi, penolong berdiri di depan vulva saat bokong  mulai membuka vulva, disuntikkan 2-5 unit oksitosin intramuskulus. Dilakukan episiotomi. 

3.      Segera setelah bokong lahir, bokong dicengkram dengan cara Bracht, yaitu kedua  ibu jari penolong sejajar sumbu panjang paha, sedangkan jari-jari  lain memegang panggul. 

4.      Saat tali pusat lahir dan tampak teregang, tali pusat dikendorkan terlebih dahulu. 

5.      Penolong melakukan hiperlordosis badan janin untuk menutupi gerakan rotasianterior, yaitu punggung janin didekatkan ke peru t ibu, gerakan ini disesuaikan dengan gaya berat badan janin. Bersamaan dengan hiperlordosis, seorang asisten melakukan ekspresikriste ller. Maksudnya agar tenaga mengejan lebih kuat sehingga fase cepat dapat diselesaikan. Menjaga kepala janin tetap dalam posisi  fleksi, dan menghindari ruang kosong antara fundus uterus dan kepala janin, sehingga tidak teradi lengan menjungkit. 

6.      Dengan gerakan hiperlordosis, berturut-turut lahir pusar, perut, bahu, lengan, dagu, mulut dan akhirnya seluruh kepala. 

7.      Janin yang baru lahir diletakkan diperut ibu. 

          Keuntungan:  

  • Tangan penolong tidak masuk ke dalam jalan lahir sehingga mengurangi infeksi. 
  • Mendekati persalinan fisiologik, sehingga mengurangi trauma pada janin. 

Kerugian:

  • Terjadi kegagalan sebanyak 5-10% jika panggul sempit, janin besar, jalan lahir kaki, misalnya primigravida lengan menjungkit atau menunjuk
  1. Manual aid (partial breech extraction) Janin dilahirkan sebagian dengan tenaga dan kekuatan ibu dan sebagian lagi dengan tenaga penolong. Prosedur manual aid (partial breech extraction)

Indikasi : jika persalinan secara bracht mengalami kegagalan misalnya terjadi kemacetan saat melahirkan bahu atau kepala.

Tahapan : 

1.      Lahirnya bokong sampai pusar yang dilahirkan dengan tenaga ibu sendiri. 

2.      Lahirnya bahu dan lengan yang memakai tenaga penolong dengan cara klasik (Deventer), Mueller, Louvset, Bickenbach.

3.       Lahirnya kepala dengan cara Mauriceau (Veit Smellie), Wajouk, Wid and Martin Winctel, Prague Terbalik, Cunan Piper.

Cara klasik:

1.      Prinsip-prinsip melahirkan lengan belakang lebih dahulu karena lengan belakang berada di ruangan yang lebih besar (sacrum), baru kemudian melahirkan lengan depan di bawah simpisis tetapi jika lengan depan sulit dilahirkan maka lengan depan diputar menjadi lengan belakang, yaitu dengan memutar gelang bahu ke arah belakang dan kemudian lengan belakang dilahirkan. 

2.      Kedua kaki janin dilahirkan dan tangan kanan menolong pada pergelangan kakinya dan dielevasi ke atau sejauh mungkin sehingga perut janin mendekati perut ibu. 

3.      Bersamaan dengan itu tangan kiri penolong dimasukkan ke dalam jalan lahir dandengan jari tengah dan telunjuk menelusuri bahu janin sampai fossa cubiti kemudian lengan bawah dilahirkan dengan gerakan seolah-olah lengan bawah mengusap muka janin. 

4.      Untuk melahirkan lengan depan, pegangan pada pergelangan kaki janin diganti dengan tangan kanan penolong dan ditarik curam ke bawah

sehingga punggung janin mendekati punggung ibu. 

5.      Dengan cara yang sama lengan depan dilahirkan 

6.      Jika lengan depan sukar dilahirkan, maka harus diputar menjadi lengan belakang. Gelang bahu dan lengan yang sudah lahir dicengkram dengan kedua tangan penolong sedemikian rupa sehingga kedua ibu jari tangan penolongterletak di punggung dan sejajar dengan sumbu badan janin sedang jari-jari lain mencengkram dada. Putaran diarahkan ke per

ut dan dada janin sehingga lengan depan terletak di belakang kemudian lengan dilahirkan dengan cara yang sama.

Cara Mueller

1.      Prinsipnya : melahirkan bahu dan lengan depan lebih dahulu dengan ekstraksi, baru kemudian melahirkan bahu dan lengan belakang. 

2.      Bokong janin dipegang secara femuro-pelviks, yaitu kedua ibu jari penolongdiletakkan sejajar spina sacralis media dan jari telunjuk pa

da crista illiaca dan jari-jari lain mencengkram paha bagian depan. Badan janin ditarik curam ke bawah sejauh mungkin sampai bahu depan tampak dibawah simpisis, dan lengan depan dilahirkan dengan mengait lengan di bawahnya. 

3.      Setelah bahu depan dan lengan depan lahir, maka badan janin yang masih dipegang secara femuro-pelviks ditarik ke atas sampai bahu

ke belakang lahir. Bila bahu belakang tak lahir dengan sendirinya, maka lengan belakang dilahirkan dengan mengait lengan bawah dengan kedua jari penolong.

Keuntungan :  Tangan penolong tidak masuk jauh ke dalam jalan lahir sehingga bahaya infeksi

minimal.

Cara louvset :

1.      Prinsipnya : memutar badan janin dalam setengah lingkaran bolak-balik sambil dilakukan traksi awam ke bawah sehingga bahu yang sebelumnya berada dibelakang akhirnya lahir dibawah simpisis. 

2.      Badan janin dipegang secara femuro-pelviks dan sambil dilakukan traksi curam ke bawah, badan janin diputar setengah lingkaran, sehingga bahu belakang menjadi bahu depan. Kemudian sambil dilakukan traksi, badan janin diputar lagi ke arah yang berlawa

nan setengah lingkaran. Demikian seterusnya bolak-balik sehingga bahu belakang tampak di bawah simpisis dan lengan dapat dilahirkan. 

Cara Mauriceau (Veit-Smellie) :

 

Mauricea

1.      Tangan penolong yang sesuai dengan muka janin dimasukkan ke dalam jalanlahir. Jari tengah dimasukkan ke dalam mulut dan jari telunjuk dan jari ke 4 mencengkram fossa kanina, sedangkan jari lain mencengkeram leher. Badan anak diletakkan di atas lengan bawah penolong, seolah-olah janin menunggang kuda. Jari telunjuk dan jari ke 3 penolong yang lain mencengkeram leher janin dari arah punggung.

2.      Kedua tangan penolong m

enarik kepala janin curam ke bawah sambil seorangasisten melakukan ekspresikriste ller. Tenaga tarikan terutama dilakukan oleh tangan penolong yang mencengkeram leher janin dari arah punggung. Jika suboksiput tampak di bawah simpisis, kepala janin diekspasi ke atas dengan suboksiput sebagai hipomoklion sehingga berturut-turut lahir dagu, mulut, hidung, mata, dahi, ubun-ubun besar dan akhirnya lahir seluruh kepala janin.

Cara cunam piper :

Pemasangan cunam  pada after coming head tekniknya sama dengan   pemasangan  lengan  pada  letak belakang  kepala. Hanya  pada  kasus  ini, cunam dimasukkan  pada arah bawah, yaitu sejajar  pelipatan  paha belakang. Hanya pada kasus ini cunam dimasukkan dari arah bawah, yaitu sejajar pelipatan  paha belakang. Setelah suboksiput  tampak dibawah simpisis, maka cunam dielevasi ke atas dan dengan suboksiput sebagai hipomoklion berturut-turut  lahir dagu, mulut, muka, dahi  dan  akhirnya seluruh  kepala  lahir.

  1. Ektraksi sungsang (total breech extraction); janin dilahirkan seluruhnya dengan memakai tenaga penolong.

Syarat partus pervaginam pada letak sungsang:

  • • Janin tidak terlalu besar
  • • Tidak ada suspek CPD

 • Tidak ada kelainan jalan lahir

  • • Jika berat janin 3500 g atau lebih, terutama pada primigravida atau multipara dengan riwayat melahirkan kurang dari 3500 g, sectio cesarea lebih dianjurkan.

Persalinan perabdominan (sectio caesaria)

Prosedur persalinan sunggang perabdominan:

Beberapa kriteria yang dipakai pegangan bahwa letak sungsang harus  perabdominam adalah :

–          Primigravida tua 

–          Nilai sosial tinggi

–          Riwayat persalinan yang buruk

–          Janin besar, lebih dari 3,5-4 kg 

–          Dicurigai kesempitan panggul 

–          Prematurita.

Prognosis Persalinan Letak Sungsang

Morbiditas dan mortalitas persalinan letak sungsang lebih berat dibandingkan letak kepala. Ini disebabkan oleh hal-hal berikut:

  1. Bagian yang paling besar dengan persendian leher justru lahir paling belakang.
  2. Terdapat tiga komponenpersalinan letak sungsang dan masing-masing dapat menimbulkan komplikasi:
    1. Persalinan bokong
    2. Persalinan bahu dengan lengan
    3. Persalinan leher dengan volume yang kecil menyebabkan terjadi kembali pembukaan serviks semakin kecil dan dapat menyebabkan kepala bayi terangkap
    4. Bagian yang paling besar dengan persendian leher justru lahir paling belakang.
    5. Terdapat tiga komponen persalinan letak sungsang dan masing-masing dapat menimbulkan komplikasi:
  • Persendian leher
  • Trauma langsung pada kepala

–          Edema serebri

–          Robekan tentorium serebri

–          Kerusakan pusat vital pada medula oblongata

  • Setelah lahir masih mungkin terjadi sisa pos trauma, yang dapat menimbulkan gangguan mental dan intelegensi

KONSEP

TEORI MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN SECARA VARNEY

Manajemen asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan kelainan letak sungsang merupakan bentuk catatan dari asuhan kebidanan yang dilaksanakan pada ibu hamil dengan kelainan letak sungsang. Manajemen asuhan kebidanan disusun dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat oleh bidan dalam langkah sebelumnya.

Langkah-langkah Manajemen varney:

Pengumpulan Data

Data atau fakta yang dikumpulkan adalah data subjektif dan objektif dari pasien .

Data subjektif

Data subjektif adalah yang menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data pasien melalui anamnesa.yang termasuk data subjektif untuk ibu hamil dengan kelainan letak sungsang antara lain :

Biodata dan Identitas

Yang perlu dikaji : nama, umur, bangsa, agama, dan alamat.Tujuan dilakukan anamnesa ini adalah untuk mengidentifikasi (mengenal) pasien lebih dekat .

Keluhan utama

Kehamilan terasa penuh dibagian atas dan gerakan terasa lebih banyak dibagian bawah

Riwayat penyakit kehamilan

Untuk Mengetahui apakah selama kehamilan ibu dari bayi perna mengalami masalah seperti pendarahan, preeklamsia, eklamsi, hipertensi, diabetes, penyakit kelamin, anemia dan deteksi dini kelainan pada bayinya. Dari kasus ibu hamil dengan kelainan letak sungsang, maka perlu penanganan kusus.

Riwayat Kehamilan ini

Yang dikaji adalah HPHT untuk menentukan usia kehamilan, TP dan kemungkinan komplikasi yang terjadi.

Pola Kebiasaan

Gunanya untuk mengetahui apakah nutrisi, pola aktifitas ibu, pola hygine, pola istirahat ibu sudah benar dan cukup atau tidak.

B.Data objektif

Data objektif merupakan data yang dikumpulkan dari pemeriksaan umum dan khusus. Data objektif mengambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik pasien, hasil laboratorium dan test diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus.

Pemeriksaan umum

Untuk menemukan gambaran keadaan umum pasien baik, yang mencakup:

  • Kesadaran
  • tekanan darah,
  • Nadi
  • Pernafasan
  • Suhu

Pemeriksaan Khusus meliputi ( inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi)

Inspeksi

Pemeriksaan tanda yang dilakukan secara head to toe yaitu:

  • kebersihan kulit
  •  rambut
  •  Muka
  • Mata: konjungtiva, sklera
  • Mulut: caries gigi, karang gigi
  • Leher: pembesaran kelenjer tiroid, pembengkakan kelenjer limfe
  • Payudara: keadaan puting susu menonjol atau tidak, kolostruum ada atau tidak
  • Perut: apakah membesar sesuai dengan tua kehamilan, apakah ada bekas luka operasi
  • Ekstremitas atas dan bawah apakah ada kelainan seperti varises, udem dan sianosis.
  • Vulva: apakah bersih, ada varises atau tidak, pengeluaran dari vagina.

Palpasi

Dengan menggunakan secara leopold, kemungkinan yang ditemukan adalah:

  • Leopold I

Tinggi fundus uteri dalam sentimeter, pada fundus teraba (keras, melenting) kemungkinan bagian kepala janin.

  • Leopold II

Pada dinding perut ibu sebelah kiri terba (panjang memapan) kemungkinan punggung janin, pada dinding perut ibu sebelah kanan teraba ( tonjolan-tonjolan kecil) kemungkinan ekstremitas janin.

  • Leopold III

Pada bagian terbawah perut ibu teraba (lunak, tidak melenting) kemungkinan bokong janin

  • Leopold IV

Untuk mengetahui seberapa masuknya bagian terbawah janin ke PAP.

Auskultasi

Periksa dengar dilakukan untuk mengetahui bunyi jantung janin, frekuensi, teratur atau tidaknya dan mengetahui posisi punktum maksimum. DJJ (denyut jantung janin) paling jelas terdengar pada tempat yang lebih tinggi dari pusat.

Perkusi

Melakukan pemeriksaan ketuk pada reflek patela kiri dan kanan positif

  1. Pemeriksaan penunjang.
  • USG

Mengetahui kemungkinan janin hidup, intrauterine, tunggal, cairan hidramnion dan derajat kematangan plasenta.

  • Pemeriksaan foto rontgen, USG, dan Foto Sinar -X : bayangan kepala di fundus.

Pemeriksaan dalam

Setelah ketuban pecah,dapat di raba lebih jelas adanya bokong yang di tandai dengan adanya sakrum,kedua tuber ossis iskii dan anus.Bila dapat di raba kaki ,maka harus di bedakan dengan tangan.Pda kaki terdapat tumit,sedangkan pada tangan di temukan ibu jari yang letaknya tidak sejajar dengan jari-jari lain dan panjang jari kurang lebih sama dengan panjang telapak tangan.

Pemeriksaan luar

Dibagian bawah uterus tidak teraba kepala, balutemen negative, teraba kepala dibagian fundus uteri, denyut jantung janin ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi dari pada umbilikus

Interprestasi Data Dasar

Diagnosa kebidanan yaitu diagnosa yang ditegakkan oleh profesi(bidan) dalam lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur (tata nama),yaitu :

  1. Diakui dan telah disahkan oleh profesi bidan
  2. Berhubungan langsung dengan praktik kebidanan
  3. Didukung oleh klinikal judgement dalam lingkup lingkup kebidanan

Berdasarkan kasus ini, maka kemungkinan interpretasi data yang timbul adalah :

  1. Diagnosa Kebidanan
  2. Ibu hamil  G…,P…, A…,H…, usia kehamilan…mgg, janin hidup, tunggal, intra uterin, let-Su, persentasi bokong, jalan lahir normal, KU ibu dan janin baik.
    1. Dasar : HPHT, TP, jumlah air  ketuban lebih dari 2 liter ddapat diketahui dari USG, hasil pemeriksaan sitology vaginal ,hasil test tanpa tekanan dengan CTG.
    2. Palpasi: pemeriksaan Leopold di bagian bawah teraba bagian yang kurang keras dan kurang bundar (bokong), sementara di fundus teraba bagian yang keras, bundar dan melenting (kepala), dan punggung teraba dikiri atau kanan.

c.       Auskultasi: DJJ (denyut jantung janin) paling jelas terdengar pada tempat yang lebih tinggi dari pusat.

d.      Pemeriksaan foto rontgen, USG, dan Foto Sinar -X : bayangan kepala di fundus

Anamnesa

Kehamilan terasa penuh dibagian atas dan gerakan terasa lebih banyak dibagian bawah.

Pemeriksaan dalam

Setelah ketuban pecah,dapat di raba lebih jelas adanya bokong yang di tandai dengan adanya sakrum,kedua tuber ossis iskii dan anus.Bila dapat di raba kaki ,maka harus di bedakan dengan tangan.Pda kaki terdapat tumit,sedangkan pada tangan di temukan ibu jari yang letaknya tidak sejajar dengan jari-jari lain dan panjang jari kurang lebih sama dengan panjang telapak tangan.

Pemeriksaan luar

Dibagian bawah uterus tidak teraba kepala, balutemen negative, teraba kepala dibagian fundus uteri, denyut jantung janin ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi dari pada umbilikus.

Masalah

Kemungkinan masalah yang timbul adalah kecemasan.

Dasar: ibu cemas dan takut menghadapi persalinan.

Gangguan eleminasi miksi (retensi urine )

Dasar: trauma mekanik karena kehamilan letak sungsang.

Kebutuhan

1.      Dukungan Psikologi

Dasar : karena ibu cemas menghadapi persalinannya.

2.      Anjurkan keluarga untuk memotivasi ibu

dasar: karena ibu takut anaknya cacat.

 Diagnosa potensial /Masalah potensial

Masalah potensial yang akan terjadi pada bayi dengan letak sungsang adalah

  1. sindrom gawat nafas.
  2. Perdarahan intrakranial
  3. Fraktur.

Tindakan segera

  1.  Sindrom gawat janin

                      tindakan yang dilakukan jika terjadi gawat janin:

–     Atur posisi ibu miring ke kiri

–     Berikan oksigen 6 liter/menit

–     Lakukan episiotomi

–     Injeksikan dexamethason

–     Pemberian cairan oral atau parenteral(infus dextrose 10% tetesan cepat)

–     Pengontrolan BJJ diwaktu his dan diluar his

–     Lakukan resusitasi setelah jalan lahir.

2. Perdarahan intrakranial

Diusahakan tindakan dibatasi untuk mencegah terjadinya kerusakan/kelainan yang lebih parah . Bayi dirawat dalam inkubator yang memudahkan observasi kontinu dan pemberian O2. Perlu diobservasi secara cermat:

  1. suhu tubuh, derajat kesadaran, besarnya dan reaksi pupil, aktivitas motorik, frekuensi pernapasan, frekuensi jantung (bradikardi/takikardi), denyut nadi dan diuresis.
  2. Diuresis kurang dari 1 ml/kgBB/jam berarti perfusi ke ginjal berkurang, diuresis lebih dari 1 ml/kgBB/jam menunjukkan fungsi ginjal baik
  3. Menjaga jalan napas tetap bebas, apalagi kalau penderita dalam koma diberikan 02.
  4. Bayi letak dalam posisi miring untuk mencegah aspirasi serta penyumbatan larings oleh lidah dan kepala agak ditinggikan untuk mengurangi tekanan vena serebral.
  5. Pemberian vitamin K serta transfusi darah dapat dipertimbangkan.
  6. Infus untuk pemberian elektrolit dan nutrisi yang adekuat berupa larutan glukosa (5–10%) dan NaCl 0,9% 4:1 atau glukosa 5–10%dan Nabik 1,5% 4:1.
  7. Pemberian obat-obatan :
    1. valium/luminal bila ada kejang-kejang.Dosis valium 0,3–0,5 mg/kgBB, tunggu 15 menit, kalau belum berhenti diulangi dosis yang sama; kalau berhenti diberikan luminal 10 mg/kgBB (neonatus 30 mg), 4 jam kemudianluminal per os 8 mg/kgBB dibagi dalam 2 dosis selama 2 hari, selanjutnya 4 mg/kgBB dibagi dalam 2 dosis sambil perhatikan keadaan umum seterusnya.
    2. kortikosteroid berupa deksametason 0,5–1 mg/kgBB/24 jam yang mempunyai efek baik terhadap hipoksia dan edema otak.
    3. antibiotika dapat diberikanuntuk mencegah infeksi sekunder, terutama bila ada manipulasi yang berlebihan.
    4. Tindakan bedah darurat :
      1. Bila perdarahan/hematoma epidural walaupun jarang dilakukan explorative Burrholedan bilapositif dilanjutkan dengan kraniotomi, evakuasi hematoma dan hemostasis yang cermat .
      2. Pada perdarahan/hematoma subdural, tindakan explorative burrhole dilanjutkan dengan kraniotomi, pembukaan duramater, evakuasi hematoma dengan irigasi menggunakan cairan garam fisiologik. Pada perdarahan intraventrikuler karena sering terdapat obstruksi aliran likuor, dilakukan shunt antara ventrikel lateral dan atrium kanan.
        Fraktur

Tindakan yang dilakukan:

Pergerakan lengan di kurangi agar fraktur tidak terjadi.

Pengobatannya adalah Reposisi abduksi 60 derajat, fleksi 90 derajat, dan imobilisasi.Patah tulang pada bayi akan cepat sembuh dalam 7-10 hari.

Intervensi/perencanaan

Perencanaan tindakan yang mungkin dilakukan pada ibu hamil dengan kelainan letak sungsang antara lain :

  1. Observasi TTV
  2. Memberi tahu hasil pemeriksaan
  3. Memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga kemungkinan cara persalinan.
  4. Konsul/kolaborasi dengan Dr.Obgyn.
  5. Melakukan inform consent.
  6. Lakukan rujukan.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Rustam Mochtar Prof. Dr. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid Edisi 2 Buku Kedokteran. Jakarta. EGC.

Manuaba IBG. 2003. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta. ECG

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!